Perhatikankisah seorang penulis cerpen dan dan para mahasiswa berikut ini : Gambar : orang-orang yang sedang membaca Al-Qur'ān. Sumber: Kemdikbud Gambar 1.9 : Belajar mengaji. Penulis Cerpen dan Mahasiswa Penulis cerpen itu berkata, "Saya tidak habis pikir, mengapa orang-orang Islam sangat emosional ketika mengetahui al-Qur'ān dibakar Nahini penting banget saat kita bermain dota karena apa disamping kita bertugas mengharras musuh kita juga harus pintar-pintar melakukan positioning saat berhadapan pada musuh yang mempunyai damage yang tinggi supaya kita tidak mati terlebih dahulu saat teman kita sedang clash. Sebagaimanadikemukakan di atas bahwa tradisi shalawatan adalah tradisi lisan yang muncul dari kegiatan membaca shalawat Nabi, yaitu merupakan doa atau komunikasi kaum santri kepada Tuhan untuk Nabi Muhammad. Kompensasi dari ritual ini adalah harapan mendapat pahala yang besar dari Tuhan dan pertolongan (syafaat) Nabi kelak pada hari kiyamat Fast Money. Home Lainnya 41 bulat, didalamnya beralaskan tikar. Penguburan harus dilakukan jam 1 satu siang. Malam harinya langsung diadakan acara Keleku ucapan syukur. 72 Dalam buku Dunia Orang Sawu karangan Nico L. Kana, ada beberapa istilah atau nama dari proses ritual yang dilakukan dalam Made Nata Mati Manis yang berbeda dengan informan yang diwawancarai penulis. Berikut adalah pemaparan yang dilakukan oleh Kana 73 tentang ritual Made Nata. Penetapan jenis upacara tergantung kepada hasil musyawarah diantara anggota kepala keluarga ina ama amu dalam kelompok dara amu di tempat orang yang meninggal tersebut menjadi warga. Keputusan ini sangat bergantung pada potensi ekonomi warga dara amu yang bersangkutan dan juga pada hubungan tolong-menolong antara almarhum dengan orang-orang di sekitarnya, yakni apakah semasa ia hidup, ia banyak memberi bantuan atau tidak kepada mereka. Selain itu tingkat usia juga dapat dijadikan faktor bagi keputusan yang akan diambil. Akibatnya, untuk pemuda atau anak-anak upacaranya sederhana saja, sedangkan bagi orang lanjut usia diusahakan upacara yang lebih lengkap dan mewah menurut kemampuan ekonomi kelompok dara amu-nya. Upacara yang sederhana dan dinilai terendah disebut Hogo wie Deo masak untuk Dewa. Yang lebih tinggi dari itu adalah Hae Awu naik kapal dan yang lebih tinggi lagi ialah Peake diikat. Yang lebih tinggi lagi di sebut Para Ki’i memotong kambing dan yang paling tinggi ialah upacara Tao Leo membuat teratak atau rumah. i. Upacara Hogo Wie Deo Ketika seseorang akan menghembuskan napas terakhirnya, padanya ditegukkan minuman ai lango jara air minyak perjalanan. Terdiri dari sebagian kecil hati binatang, 3 tiga butir beras yang kulitnya telah dikupas dengan tangan bukan beras tumbuk, 3 tiga 72 Hasil wawancara dengan bapak DTB 40 tahun, pada 15 Januari 2012, di kediaman bapak DTB, pada pukul WITA 73 Nico L. Kana, Dunia Orang Sabu, Jakarta Timur Sinar Harapan, 1983 , 42 sayatan minyak babi yang selama itu disimpan di loteng bagian perempuan, semuanya dimasak dalam periuk kecil atau yang disebut aru kuku, terbuat dari tanah dan biasa di gunakan untuk memasak makanan untuk anak kecil. Sebelum dikubur jenazah dibungkus dan diikat, umbai-umbai selimut Sabu diikatkan pada jenazah, kaki dan tangannya diikat dan dikenakan sabuk yang disebut dari dulu ai tali timba air. Apabila jenazah sudah terletak di liang kubur sabuk pun dilepaskan. Di sisi jenazah segera diletakkan sirih pinang dan tembakau, sedangkan ke mulutnya di masukkan sekeping uang logam dan cincin. Sesudah penguburan, hati anak babi atau disebut ana wawi lebo ade anak babi yang di lubangi hatinya diletakkan sebagai sesaji di atas kubur. Sore hari barulah bekas-bekas upacara seperti ikatan tali ikatan, wadah bekas minuman dan sebagainya itu dibuang ke tempat pembuangan di luar yang disebut kolo malaha. Sesudah jenazah dikuburkan, keesokan harinya diselenggarakan upacara “memasak untuk dewa” dengan menyembelih seekor babi sebagai tanda penutup upacara dan memohon agar kematian tidak berulang di rumah tersebut. Jika keluarga almarhum merupakan orang berada maka hewan yang dikurbankan seringkali lebih besar lagi. ii. Upacara Hae Awu Upacara kematian ini diawali pada saat si sakit akan menghembuskan napas terakhirnya. Ia akan diberi minum ai lango jara juga sampai 3 tiga kali, dari kaba rai wadah yang terbuat dari tanah, sambil diusapkan kepadanya. Jika ia ternyata sudah mati maka perbuatan ini hanya dilakukan secara simbolik. Untuk upacara ini yang disembelih adalah ayam, tetapi jika keadaan ekonominya lebih baik masih akan ditambah dengan kambing dan babi. 43 Sesudah yang bersangkutan benar-benar mati dilakukanlah perihe ri nga’a ri nginu disisakan makanan dan minuman, yakni membunuh hewan yang sebagian dagingnya dipersembahkan bersama makanan dalam wadah yang diletakan di sisi kiri dan kanan almarhum. Sesudah itu baru almarhum dimandikan. Seluruh tubuh almarhum diolesi dengan nyiu woumangi kelapa harum, yakni kunyahan kopra dan irisan kayu cendana, sedangkan rambutnya diolesi dengan parutan kelapa campur minyak babi. Ampas kelapa olesan itu lalu ditaburkan ke sekeliling pusar sedangkan sepotong kayu kemeyan yang disebut kerani di taruh di dalam lubang pusarnya itu. Sementara itu seuntai biji damar atau biji nitas dibakar dekat kemenyan tersebut. Kegiatan ini disebut tunu ahu membakar pusar. Jenazah lalu disiapkan dengan dihiasi baik-baik agar diterima para leluhur menumpang perahu yang akan membawanya ke dunia gaib. Jenazah lalu di bungkus dengan selimut atau sarung yang berwarna merah yang di sebut ai mea higi taba. Sebelum dibungkus di pinggang almarhum di selipkan sirih pinang, jagung rote, kacang hijau dan kelapa kering. Bungkusan jenasah lalu diikat pada bagian tangan, pinggang dan kakinya pun diikat dengan pelepah daun lontar yang dibuat khusus untuk itu. Tali ini di sebut dari wodue api keriu tali dua “urat” yang dipintal ke kiri, dan sebagai pengikat ia dinamai dari dulu ai nginu pa rujara la hedapa Deo tali timba air minum di jalan ke hadapan Dewa Dalam keadaan ini jenazah di baringkan dibalai-balai utama di dalam rumah sambil dikitari warga perempuan sepanjang malam. Esok hari para pelayat berdatangan. Pelayat perempuan berkerudung sarung atau disebut leo kolo tudung kepala dan sambil merangkul warga perempuan almarhum merekapun bertangis-tangisan. Para pelayat laki-laki diterima keluarga lelaki almarhum. Pada saat itulah para warga laki-laki itu memusyawarahkan bentuk upacara kematian buat almarhum. Penguburan berlangsung esoknya. Jenazah dibawa keluar melalui pintu anjungan dengan kaki lebih dahulu, kemudian diletakkan dalam liang kubur yang sudah dialasi sehelai 44 tikar. Sesudah itu barulah tali ikat jenazah dibuka. Penguburan pejabat pemimpin upacara umumnya dilangsungkan malam hari, dengan kepalanya ditudungi gong, sedangkan posisi badannya duduk diatas kulit kerang. Sebelum upacara penguburan ini di lanjutkan dengan penimbunan tanah maka diucapkanlah kata-kata perpisahan dan rasa terima kasih keluarga. Malamnya sanak saudara almarhum datang berkunjung lagi. Pada malam itu dituturkan sisilah, pedai huhu kebie bicara susunan silsilah, baik menurut garis lelaki atau pun perempuan si almarhum. Disinilah sering para pengunjung mengetahui lebih jelas lagi hubungan kekerabatan mereka dengan almarhum ataupun dengan sesama pengunjung itu sendiri. Upacara pada hari ketiga adalah upacara pemo yang berarti upacara memberisihkan. Sumbangan hewan besar seperti kuda atau kerbau atau pun hewan kecil seperti babi atau kambing, makanan, selimut, ikat kepala dan sirih pinang dibawa oleh para penyumbang ke rumah juga disiapkan. Seusai ini akan dilakukan imbalan buat para pengunjung yang memberikan sumbangan. Penyumbang seekor hewanakan menerima dua kali seperempat bagian hewan tersebut sebagai imbalan. Penyumbang makanan dan lainnya akan menerima imbalan berupa makanan dan potongan daging hewan. Pembagian wadah makanan ini disebut pekepala pai pembagian besek. Malamnya diadakan lagi pembacaan silsilah, yang pada hakikatnya merupakan tapeele ne hedui herui untuk menghabiskan susah dan duka. Esoknya merupakan logo pengahe hari berhenti yang tanpa upacara khusus. Makanan sisa kemarin disuguhkan dan karenanya disebut woubai makanan basi. Hari ke lima diperuntukkan untuk upacara haga, yang menandai selesainya urusan si mati dengan dunia orang hidup dan hemanga roh almarhum agar berangkat ke dunia gaib tanpa di halangi wango kekuatan yang negatif. 45 Gambar 4. Upacara Haga pada peristiwa kedukaan 74 Pembawa ayam orang yang tidak memakai baju adalah pemimpin upacara, berdiri berhadapan dengan keluarga terdekat almarhum. Upacara ini harus dilakukan didalam kampong dengan membelakangi pintu toka dimu gerbang timur dari kampung Menutup rangkaian upacara kematian Hae Awu dilakukan malam hari, dengan upacara raja daru amu memaku rumah, yang diperuntukkan hanya diantara anggota keluarga almarhum. Bagian-bagian rumah yang penting ditancapi ruhelama daun selamat, yakni daun lontar yang disilang-silangkan dan dipaku dengan lidi. Dengan memaku ini dimaksud seluruh rumah dan penghuninya dilindungi dari kematian, agar tidak melanda lagi. iii. Upacara Para Ki’i Dalam upacara memotong kambing ini, segera sesudah penderita penyakit meninggal dilakukanlah upacara pemberian air minum minyak perjalanan juga, yang dicampur dengan 3 butir beras dalam tempurung minuman baru dengan sendok tempurung yang baru pula. Seekor ayam dibunuh pula, dengan cara dilubangi untuk diambil hatinya. Jika pihak keluarga almarhum cukup kaya, maka juga akan disembelih anak babi dan anak kambing. Pembawa berita kematian tidak boleh masuk begitu saja ke rumah atau kampung pemimpin upacara. Ia akan berdiri di luar pagar kampong sambil mengabarkan kabar 74 Gambar diambil dari dari buku Nico, L. Kana, Dunia Orang Sabu, Jakarta Timur Sinar Harapan, 1983, 46 dukacita tersebut. Rasa dukacita dinyatakan tuan rumah dengan berdiri dipagar kampung sambil melemparkan telur dan abu dalam terpurung kearah gerbang. Tindakan ini disebut lole awu tabe kolo mambawa abu menerpa kepala. Ia lalu meletakkan sedikit irisan daging kerbau dan kacang hijau dan gemuk babi campur air dingin di batu khusus. Hari ke-2 dua dilangsungkan upacara peraba kebao saling merampas kerbau. Hewan yang dibunuh itu direbut dagingnya beramai-ramai oleh hadirin. Hal ini konon untuk menandai kekayaan keluarga almarhum. Esoknya dilakukan upacara pemo memberisihkan. Esoknya lagi istirahat dan hari ke-5 lima diselenggarakanlah upacara haga yang juga diikuti upacara pemanggilan roh yang hidup dan akhirnya menanyai tombak. Sesudah itu baru dilakukan penutupan kembali dinding di bagian anjungan rumah atau labu laba pebare. Untuk upacara penutupan dinding itu Deo Rai diundang ke rumah almarhum untuk menyembelih kambing buat upacara. Ada kalanya ini diikuti dengan mencelupkan buah lontar ke dalam cairan mengkudu lalu mengusir roh orang mati ke luar rumah itu dengan mengibas-ibaskan daun waru ke pelbagai penjuru. iv. Upacara Tao Leo Yang disebut upacara kematian “membuat rumah atar teratak” ini paling kompleks penyelenggaraannya karena paling tinggi kedudukannya. Untuk itu didirikan teratak tempat orang-orang menari. Sambil menanti kedatangan orang-orang yang diundangi, jenazah dimandikan, diolesi minyak dan “bakar pusar”, dibungkus sarung atau selimut atau dibaringkan tepat di bagian batas anjungan dan buritan rumah. Anak babi dan anak kambing kemudian dilubangi hatinya dan diikuti pemberian minuman “minyak perjalanan” bagi almarhum. Hewan-hewan persembahan itu disajikan buat para leluhur, sedangkan pemberian minuman dilakukan sampai 3 tiga kali sambil diiringi penendangan 3 tiga kali pula 47 dinding anjungan. Tindakan ini melambangkan pengusiran kekuatan wango dari dalam rumah. Sesudah itu semua perhiasan dan pakaian dikenakan pada jenazah. Hal ini dikarenakan si mati sedang dalam perjalanan ke dunia gaib dan karena itu dianggap perlu berdandan sebaik mungkin. Bahkan harus diolesi agar bau tubuhnya pun harum. Sesudah siap pemimpin upacara lalu melakukan upacara “penembakan” dengan bedil tua yang pucuknya diarahkan ke barat. Maka menyusullah pembuatan leo dapi = teratak tikar yang bahannya terdiri dari 2 dua batang kayu dadap atau aju kare, sembilan tiang dan kayu-kayu palang, dinding anjungan, sehelai tikar kecil serta sejumlah tikar lebar. Dinding dan tikar kecil itu dilambangkan sebagai layar perahu. Pemasangan teratak ini didahului oleh makan bersama, yakni berlauk kerbau atau ditambah dengan daging babi. Hari ke-2 dua, fajar menyising, teratak harus diberi “makan” dan disebut pengaa’leo depi. Untuk dipotong seekor kerbau dan seekor babi. Sesudah itu sarapan bersama pun dilakukan dan disambung dengan tari-tarian sampai malam hari. Pada malam hari ke-3 tiga dilangsungkan oro rai jelajahi tanah menceritakan kebaikan almarhum atau pun orang-orang dalam garis keturunan lelaki dari almarhum, yang sudah mati. Hari ke-4 empat diundang orang yang melakukan upacara huri mada dere mencoret mata gendang; yang dimaksud ialah kulit tambur yang ditabuh. Mata gendang dan sejumlah gong kemudian dicoret dengan tanda silang +. 48 Gambar 5. Upacara Huri Made Dere pada waktu kedukaan. 75 Pemberian tanda + pada gendang ialah bagian dari upacara yang berlangsung sampai berhari-hari. Sekalipun demikian, upacara ini sering berlangsung dengan khidmat Saat mencoreti gendang si pelaku mengucapkan mantra, li mangau, bagi almarhum dan tokoh leluhur mitis bernama Ago Rai yang dianggap datang menjemput almarhum. Sesudah itu dilanjutkan dengan banyo, lagu duka. Sesudah itu dilangsungkan kata-kata hiburan dan pujian bagi para pelayat. Hari ke-5 lima masih dilanjutkan dengan tarian di bawah teratak. Menjelang sore hari berlangsung upacara perebutan daging kerbau sembelihan. Sebelum dipotong hewan- hewan itu, lazimnya 2 dua ekor kerbau dan seekor kuda, oleh pemimpin upacara diberi kelapa harum di telinganya sambil diriingi pengucapan mantra. Hari ke-6 enam ialah lodo pemo, hari pembersihan dan penutupan dinding anjungan. Dilanjutkan dengan memakan makanan sisa. Sedangkan haru ke-7 tujuh, hari terakhir, diisi dengan memaku erat-erat, raje pebare, dan memaniskan semua tempat yang telah digunakan untuk upacara dengan menyirami dengan air gula lontar. Mantra yang diucapkan selain memohon berakhirnya 75 Gambar diambil dari dari buku Nico, L. Kana, Dunia Orang Sabu, Jakarta Timur Sinar Harapan, 1983, 49 kematian buat rumah itu juga sekaligus buat pemeberkahan bagi seisi rumah yang ditinggal si mati. Analisa Dari penjelasan diatas, jelas terlihat ada banyak sekali proses atau ritual yang dilakukan jika ada anggota keluarga yang meninggal. Hal ini dilakukan tidak hanya untuk orang yang telah meninggal tetapi juga bagi keluarga yang ditinggalkan. Dari pihak keluarga yang masih hidup diperlukan tindakan ritual agar yang anggota keluaga yang sudah meninggal terjamin keadaannya “di alam sana” dan pihak yang hidup tidak dilanda “pengaruh buruk” baik itu perasaan dan kehilangan identitas, atau mendapat gangguan roh si mati akibat suatu kematian melainkan memperoleh berkat. 76 Dalam tahapan ritual untuk Made Nata mati manis, terdapat lima bentuk upacara yang dapat dipilih oleh keluarga. Penetapan jenis upacara yang dilakukan tergantung pada potensi ekonomi keluarga dari yang meninggal tersebut dan hubungan antara orang yang meninggal dengan sanak saudara, handai taulan dan kenalan baik atau tidak. Dari sini terlihat bahwa hubungan atau relasi yang baik antara sesama manusia sangat diperhitungkan. Hal ini dikarenakan pandangan masyarakat Sabu tentang hakikat manusia sebagai makhluk sosial, yang tidak dapat hidup sendiri sehingga membutuhkan pihak lain seperti, manusia lain, alam serta kekuatan gaib sehingga relasi yang baik antar sesama manusia sangat diperhatikan. Dari kelima bentuk upacara yang dilakukan terdapat persamaan tindakan pertama dalam memulai proses ini, yaitu jenazah diberi minum ai lango jara air minum perjalanan. Penulis melihat hal ini dikarenakan arti atau makna kematian bagi orang Sabu adalah sebuah perjalanan menuju alam gaib untuk berkumpul dengan para leluhur. Arwah 76 Ninik Dwiyantu S., Pengaruh Adat Tionghoa di Sekitar Kematian dalam Kehidupan Bergereja- Skripsi Salatiga Universitas Kristen Satya Wacana, 1990 hal. 30 50 orang yang meninggal tidak langsung akan berkumpul dengan para leluhur karena arwah para leluhur tidak berada di pulau Sabu tetapi di Yuli Haha tanjung Sasar dekat pulau Sumba. Oleh karena itu perlu di beri minum ai lango jara untuk bekal menuju alam gaib. Sama halnya ketika keluarga memberi satu uang koin logam ke mulut jenazah, ataupun memakaikan pakaian adat yang bagus serta didalam petinya ditaruh sarung ataupun selimut, hal ini dilakukan dengan tujuan untuk memberi bekal bagi orang yang telah meninggal untuk digunakan di alam gaib. Dalam budaya Sabu, biasanya ada yang masih memberikan atau menyediakan makanan bagi orang yang telah meninggal, hal ini dikarenakan adanya anggapan bahwa orang yang sudah meninggal itu masih ada. Jika ada anggota keluarga yang bermimpi bertemu dengan orang yang telah meninggal maka keluarga merasa ada yang ingin disampaikan oleh orang yang telah meninggal itu atau merasa bahwa orang yang telah meninggal tersebut sedang merasa lapar sehingga perlu diberi atau disediakan makanan. Dalam budaya Sabu, yang membawa satu barang atau hantaran bagi orang yang meninggal biasanya per satu desa bukan perorangan. Hal ini berbeda dengan kebudayaan orang Sabu yang telah tinggal diluar Sabu. Mereka biasanya membawa hantaran secara pribadi bukan kelompok. Pada waktu dilakukan pemotongan hewan yang merupakan hantaran dari keluarga, maka bagian kepala, dada dan isi perut di bawa kembali oleh tuan atau pemilik binatang, sedangkan sisanya diberikan kepada keluarga yang berduka. Barang atau hewan antaran dari keluarga atau kenalan akan dicatat sehingga ketika keluarga tersebut mengalami pesta atau acara lain termasuk kematian maka akan “dibalas” kembali oleh keluarga yang telah diberikan hantaran tersebut. Barang yang dibawa tidak harus sama baik jumlah atau pun jenisnya, tetapi hal ini dilakukan agar saling mengingat satu sama lain atau biasa disebut sistem balas jasa, sehingga apa yang kita lakukan kepada orang lain, maka hal itu yang akan di tambahkan pada kita. 51 Dalam buku Dunia Orang Sawu, Kana mengatakan bahwa kubur orang yang mati secara wajar ialah dibawah kolong balai-balai tanah atau disebut Kelaga Rai. Bila lelaki, maka kuburannya ditempatkan di bagian anjungan depan, sedangkan perempuan dikubur di bagian buritan belakang. Liang kubur bagi kematian manis berbentuk lubang melingkar. Jenazah dibaringkan pada sisi badan dengan lutut tertekuk ke dada, bagian depan jenazah lelaki diarahkan ke barat sedangkan perempuan ke timur. Hal ini melambangkan keadaan manusia di dalam rahim ibu, karena tanah merupakan lambang sosok seorang ibi. Adapun kuburan untuk kematian asin berbentuk persegi empat, terletak memotong arah panjang rumah di bagian sisi anjungan. Jenazah orang mati asin dikubur terlentang dengan kepala terletak kearah bagian depan rumah yang dipilin sedemikian rupa sehingga wajahnya menghadap ke bawah. 77 Jika berbicara tentang kuburan orang Sabu yang sederhana dan berada di bawah beranda rumah serta tidak banyak ornamen atau penanda yang menandakan adanya kuburan, penulis menilainya sebagai sebuah sikap sederhana sehingga mereka tidak menghias kuburnya dengan banyak ornamen. Selain itu adanya anggapan bahwa orang mati tersebut masih ada bersama-sama dengan keluarga sehingga mereka menguburnya di bawah beranda rumah agar sosoknya dirasa tetap tinggal bersama dengan mereka. Hal ini berpengaruh pada tindakan mereka yang masih memberikan makan untuk orang yang meninggal karena dianggap orang tersebut masih ada bersama-sama dengan mereka. Pada penjelasan-penjelasan diatas jelas terlihat bahwa adanya pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan. Namun sebelumnya penulis ingin memaparkan sedikit tentang kedudukan perempuan dalam kehidupan orang Sabu. Dalam pandangan Orang Sabu, perempuan ternyata memiliki tempat yang tinggi. 78 Mereka sering mengumpamakan 77 Nico L. Kana, Dunia Orang Sabu, Jakarta Timur Sinar Harapan, 1983 , 78 Ibid, hal. 23-24 52 matahari sebagai laki-laki sedangkan perempuan sebagai bulan, ataupun bumi sebagai laki- laki dan laut sebagai perempuan. Dalam pembagian kerja yang berdasarkan jenis kelamin di Sabu pada hakikatnya bukan karena laki-laki lebih tinggi kedudukannya daripada pihak perempuan, akan tetapi yang ingin ditonjolkan dengan adanya pembagian kerja adalah sifat keduanya saling melengkapi satu dengan yang lain, sehingga bersifat sederajat dan selaku teman sekerja. Hal ini sama dengan ajaran Kristen tentang kedudukan perempuan dan laki-laki dalah hal rumah tangga bahwa suami dan istri memiliki hubungan yang setara atau sebagai mitra kerja. Padahal pandangan orang Sabu tentang kedudukan perempuan telah ada jauh sebelum mereka mengenal agama Kristen. Penulis melihat adanya kesamaan antara ajaran orang Sabu dan ajaran agama Kristen. Bagi orang Sabu yang sudah tidak menetap lagi di pulau Sabu, biasanya tidak lagi melakukan ritual tersebut secara penuh. Mereka biasanya hanya melakukan ritual Huhu Kebie, “memberi makan” orang yang telah meninggal, atau pun menutupi jenazah dengan sarung perempuan dan selimut lelaki sesuai dengan strata sosial keluarga masing- masing. Ada pun yang masih memberikan sarung, selimut atau pun pakaian ke dalam peti jenazah sebagai bekal di dunia gaib. Dari pemaparan diatas juga dapat diidentifikasi bahwa pendampingan pastoral tidak hanya dilakukan oleh orang yang telah ahli atau profesional tetapi pendampingan pastoral lebih luas maknanya yaitu dapat dilakukan oleh siapa saja orang Kristen yang mau membantu orang lain baik yang ada didalam komunitas atau lingkungannya atau pun yang tidak. Hal ini dikarenakan pendampingan pastoral terutama mengacu pada semangat, tindakan, memedulikan dan mendampingi secara generik. Selain itu juga, jika kita melihat ritual yang dilakukan pada suku Sabu maka terlihat hampir sama dengan masyarakat tradisioanal lainnya, yaitu semua orang dalam lingkungan 53 atau komunitas terbesar atau dalam masyarakat dan komunitas terkecil atau keluarga inti dapat melakukan pendampingan. Jadi mereka saling menguatkan satu dengan yang lain sehingga keluarga yang berduka tidak merasa sendiri dalam kedukaannya, karena ada banyak orang yang memperdulikan kesedihannya. Oleh karena itu penulis ingin melihat bahwa sikap memedulikan sangat penting manfaatnya bagi orang yang sedang mengalami krisis. Sikap ini merupakan jalan masuk bagi seseorang yang ingin melakukan pendampingan pastoral. Hal ini di dapat penulis ketika melakukan observasi atau wawancara terhadap beberapa informan. Mereka sangat merasakan perhatian yang besar dari keluarga dan teman yang datang menunjukkan rasa peduli mereka terhadap kedukaan orang yang berduka sehingga mereka tidak berlama-lama dalam kedukaannya. Dari kelima jenis upacara tersebut yang telah dipaparkan diatas, maka terlihat bahwa ada makna pendampingan pastoral tidak langsung yang dilihat oleh penulis. Berikut ini akan dipaparkan beberapa temuan penulis tentang adanya makna pendampingan pastoral pastoral tidak langsung dalam ritual adat yang dilakukan, yaitu 1 Menyembuhkan Healing, yaitu suatu fungsi pastoral yang bertujuan untuk mengatasi beberapa kerusakan dengan cara mengembalikan orang itu pada suatu keutuhan dan menuntun dia kearah yang lebih baik dari sebelumnya. Penulis melihat fungsi ini didalam proses yang ada dalam ritual kematian suku Sabu. Seperti dalam ritual Huhu Kebie, dimana selain mengucapkan silsilah keturunan dari orang meninggal juga ada syair yang menunjukan bahwa hidup harus terus berlanjut sehingga tidak usah bersedih terlalu lama. Menurut penulis dalam ritual ini, keluarga mendapatkan fungsi pastoral menyembuhkan dari orang yang bisa melakukan ritual huhu kebie, karena secara tidak langsung dapat orang yang melantunkan syair itu telah memberikan semacam motivasi untuk terus 54 melanjutkan hidup karena kita yang hidup telah hilang ketergantungan dengan orang yang telah mati. 2 Menopang Sustaining, yaitu suatu fungsi pastoral yang menolong orang yang “terluka” untuk bertahan dan melewati suatu keadaan yang didalamnya terdapat pemulihan terhadap kondisi semula. Penulis melihat hal ini lewat kedatangan keluarga, kenalan dan handai taulan yang datang secara bersama-sama. Secara tidak langsung memberikan fungsi pastoral menopang agar keluarga yang berduka dapat bertahan di dalam masa berkabungnya. 3 Dalam ritual ini, penulis juga melihat fungsi memberdayakan empowering yang oleh Totok S. Wiryasaputra dalam buku Ready to Care 79 adalah untuk membantu orang yang didampingi menjadi penolong bagi dirinya sendiri pada masa depan ketika menghadapi kesulitan kembali. Bahkan, fungsi ini juga dipakai untuk membantu seseorang menjadi pendamping bagi orang lain. Hal ini tampak dalam keseluruhan ritual kematian yang dilakukan, yaitu bahwa orang yang datang ke rumah duka dan melihat ritual tersebut dilakukan maka mereka melihat dan menyaksikan sendiri bahwa keluarga yang berduka di bantu oleh kelompoknya untuk bisa bertahan dalam masa berduka dan ada rasa kekeluargaan yang tampak sehingga ketika kedukaan itu terjadi pada mereka, mereka telah mengetahui cara untuk bertahan dikala duka dan bisa memakai beberapa makna dari ritual ini untuk membantu orang lain yang sedang berduka. b Made Haro Mati Asin Dalam jenis Made Haro mati asin, maka akan diterima dengan menggunakan adat, yaitu dengan menggunakan genua bawang putih dan gula Sabu. Orang yang melayat pun 79 Totok S. Wiryasaputra, Ready to Care., 92-93 55 tidak diperbolehkan makan makanan di tempat orang yang meninggal, karena jika dilanggar maka akan ada dampak yang ditimbulkan seperti hewan ternak yang akan mati secara tiba- tiba. 80 Made Haro atau mati tidak layak, contohnya kematian yang disebabkan karena kecelakaan, yang meninggal karena bersalin dan lain-lain sehingga harus segera dikubur. Oleh karena hanya orang-orang tertentu yang boleh melayat. Orang yang melayat akan menerima makanan dari luar dan 3 tiga hari 3 tiga malam baru boleh kembali dari rumah. Yang mengatar makanan hanya boleh mengantar makanan sampai di depan Darra Roe atau pintu gerbang saja. Mayat orang yang mati karena kecelakaan, dikuburkan diluar rumah dan bentuk kuburannya persegi panjang. Upacara ini disebut Rue, sedangkan pada upacara kematian orang yang meninggal secara lazim atau biasa, mayatnya dibungkus dengan selimut adat dan dikuburkan dalam posisi jongkok dengan dibekali bahan makanan, sirih dan buah pinang. 81 Dalam budaya orang Sabu, jika yang meninggal adalah orang tua, maka pestanya akan sangat mewah apabila di bandingkan dengan anak muda. Hal ini dilakukan untuk memberikan penghormatan kepada yang meninggal. Jika yang meninggal adalah trurunan raja atau para bagsawan maka acara kematian bisa dilakukan sampai 3 tiga bulan atau 1 satu tahun. Dalam budaya orang Sabu, ada proses dari ritual yang dilakukan adalah menangis sambil melantunkan syair yang disebut Huhu kebie yang adalah cerita tentang silsilah keluarga keturunan. Orang yang melakukan Huhu kebie adalah orang yang secara kodrati atau alamiah dapat melakukannya atau yang biasa disebut dengan istilah karunia. Biasanya dilantunkan oleh dua atau lebih orang. 80 Hasil wawancara dengan bapak YB 60 tahun, pada 27 Maret 2012, di kediaman bapak YB, pada pukul WITA 81 http 56 Pada waktu meratapi jenazah, orang yang melakukan Huhu kebie akan dibungkus atau ditutupi dengan kain atau mereka menyebutnya dengan kata selimut. Dalam Huhu kebie, silsilah yang dilantunkan adalah garis keturunan ibu dan bapak. Silsilah yang dilantunkan biasanyanya sangat panjang, dimulai dari silsilah orang yang meninggal sampai pada turunan yang pertama. 82 Orang coba susun silsilah tapi tidak mengetahuinya secara pasti atau persis, mereka bisa mendapakan kesialan atau celaka. 83 Dalam budaya Sabu, jika suami dari saudara perempuan meninggal, maka setelah acara penguburan, pada malam harinya saudara laki-laki dari perempuan atau istri dari suami yang meninggal, dapat meminta agar saudara perempuanya dibawa pulang mengikuti mereka. Akan tetapi jika anak-anak mereka tidak setuju maka mereka akan berkata, “Mama punya air susu belum kering, jadi kita masih mau mama ada bersama-sama dengan kita”, artinya mereka masih membutuhkan kasih sayang dari ibu mereka. Sedangkan bagi keluarga dari suami yang telah meninggal itu akan berkata, “kita ambil dia ibuistri dengan baik-baik, maka jika dia sedang mengalami masalah dan kehilangan, kita tidak bisa melepaskan dia begitu saja”. Hal ini wajib dilakukan karena merupakan aturan adat. Jika orang Sabu yang meninggal di luar pulau Sabu, maka akan dibawa rambut dari orang yang telah meninggal, namun sekarang barang yanga dibawa bisa berupa foto atau pun pakaian. Ritual ini disebut Ru’ Ketu. Hal ini dilakukan untuk menunjukkan kepada keluarga di Sabu bahwa salah satu anggota keluarga mereka ada yang telah meninggal. Selain itu 82 Hasil wawancara dengan WD 66 tahun, pada hari rabu, 19 Oktober 2011, pukul wita, di kediaman bapak WD 83 Hasil wawancara dengan bapak DTB 40 tahun, pada 15 Januari 2012, di kediaman bapak DTB, pada pukul WITA 57 dalam budaya Orang Sabu, setiap orang Sabu adalah milik tanah Sabu. Di manapun dia bepergian wajib baginya untuk kembali ke kampung halamannya. Penjemputan terhadap Ru’ Ketu dilakukan dengan menggunakan adat. 84 Dalam buku Dunia Orang Sabu Nico L. Kana, disebutkan pula tentang proses ritual bagi Made Haro. Jika misalnya kematian asin ini karena korban jatuh dari pohon lontar, maka ia diangkut dengan tandu yang terbuat dari pelepah lontar yang disebut kelaga apa balai-balai pelepah ke kampung. Para pengiring jenazah, di sepanjang jalan menyanyikan nyanyian Hida Ngara, Rai Seruan Nama Tuhan menabur-naburkan biji jagung dan kacang hijau. Penanduan secara demikian itu dibolehkan jika kematian itu terjadi sesudah dilakukan upacara penutupan tungku masak gula lontar, yaitu upacara yang menandai berakhirnya masa kegiatan kerja yang dianggap penting dan kritis. Apabila kematian asin ini terjadi pada masa kegiatan memasak gula, maka penanduan korban ke kampung tidak boleh dilakukan sambil menyanyi seperti disebutkan tadi. Cara memasukkannya di kampung pun berbeda. Bukan lewat gerbang kampung akan tetapi melangkahi pagar karang. Ini disebut lila lau paga biri terbang pagar langkahi pagar. Pada hari ke-3 tiga diadakan lagi upacara “memaniskan” namun dipimpin Deo Rai. Juga buat dia diserahkan 7 tujuh ekor hewan rumah. Ia disambut dengan suguhan sirih pinang. Di rumah almarhum dipotong pula seejor babi untuk makan bersama warga atau disebut senga’a pana. Babi yang disembelih itu disebut wawi luna nyiu nata babi keramas manis. Dengan ini keadaan wajar dikembalikan lagi di antara mereka. Upacara yang kemudian menyusuli ialah seperti yang ada pada kematian biasa, yakni membersihkan, kemudian haga, diteruskan dengan “memaku rumah”. Dengan demikian lengkaplah mati asin itu menjadi mati manis. 85 84 Hasil wawancara dengan WD 66 tahun, pada hari rabu, 19 Oktober 2011, pukul wita, di kediaman bapak WD. 85 Nico L. Kana, Dunia Orang Sabu, Jakarta Timur Sinar Harapan, 1983 , hal. 68-73 58 Analisa Dalam ritual kematian suku Sabu untuk jenis mati asin made haro, penulis melihat adanya fungsi pastoral 1 Menyembuhkan Healing, yaitu suatu fungsi pastoral yang bertujuan untuk mengatasi beberapa kerusakan dengan cara mengembalikan orang itu pada suatu keutuhan dan menuntun dia ke arah yang lebih baik dari sebelumnya. Hal ini jelas terlihat dari keseluruhan proses mati asin made haro, yang adalah mati secara tidak wajar atau karena kecelakaan sehingga mereka melakukan ritual “memaniskan” kembali keadaan yang telah rusak agar orang telah meninggal tersebut dapat diterima untuk berkumpul dengan para leluhur di alam gaib. Selain itu juga dapat memberikan “kesembuhan” secara batin yang terluka akibat kematian anggota keluarga secara tidak wajar serta menormalkan segala hal yang telah “asin” ke keadaan semula. 2 Mendamaikan Reconciling, yaitu suatu fungsi pastoral yang bertujuan untuk berupaya membangun ulang relasi manusia dengan sesamanya dan antara manusia dengan Allah. Hal ini menurut penulis karena hubungan manusia dan sesama serta Tuhannya telah terluka akibat kematian yang tidak wajar sehingga dalam segala bentuk ritual mati asin made haro dilakukan proses memaniskan kembali ke keadaan semula sehingga hubungan atau relasinya dapat tejalin lagi. Gambar 6. Tetan Disini juga terlihat ba membutuhkan satu sama lain d dengan alam dan Tuhan. Sehin keadaan yang menimpa kita penjelasan di bab II dua terlih fisik, aspek mental, aspek spiri dapat melihat bahwa semua a manusia yang satu dengan ya manusia dapat menolong satu d Sama halnya dengan ad melayat untuk tidak makan di menurut penulis mereka mem mendapatkan kesialan yang sa lain begitu jelas terlihat. Akan t 86 Gambar diambil dari dari buku Nico, 59 tangga dan Kerabat berdatangan ketika terjadi kema bahwa manusia adalah makhluk sosial yang n dan memiliki relasi tidak hanya dengan sesama hingga hubungan baik itu harus terus terjaga sehi ta ada banyak tangan yang datang menolong. rlihat bahwa manusia memiliki empat aspek utama iritual dan aspek sosial yang ada dalam dirinya. D a aspek harus diperhatikan secara baik sehingga yang lain saling melengkapi. Dengan menyada u dengan yang lain. adat mereka yang tidak memperbolehkan orang di tempat atau rumah duka selain karena takut mementingkan atau mempedulikan satu sama lai sama. Disini terlihat bahwa sikap memperdulika n tetapi bukan berarti dengan tidak membiarkan or o, L. Kana, Dunia Orang Sabu, Jakarta Timur Sinar Harap ematian 86 g hidup saling ma, tetapi juga ehingga apapun . Seperti pada ma, yaitu aspek a. Dari sini kita gga keberadaan adari ini maka ng yang datang ut sial, adat ini lain agar tidak likan satu sama orang lain ikut rapan, 1983, 60 sial, mereka membiarkan orang yang meninggal tidak diurus karena takut sial tetapi mereka tetap melakukan setiap prosesnya agar kematian yang tidak wajar tersebut dapat dimaniskan kembali agar dapat diterima dengan baik oleh para leluhur dan mempermudah jalan menuju alam gaib. 3. 2. 2. Pemau Do made, meretas jalan menuju nirwana Berikut ini adalah Soal Penilaian Akhir Semester PAT di mata pelajaran Sejarah Indonesia Kelas X SMA Semester 2 Kurikulum 2013 Revisi jurusan IIS - IPS berbentuk lembar ujian PAT Sejarah Indonesia Kelas 10 merupakan berkas yang digunakan tahun sebelumnya yang masih dapat digunakan untuk pembelajaran kurtilas di tahun pelajaran 2022/2023. Kegiatan PAT Genap digunakan bapak/ibu guru untuk mengevaluasi capaian hasil belajar siswa, dan menggunakannya untuk menentukan kenaikan PAT Sejarah Indonesia Kelas X K13 Tahun 2022/2023, TerbaruSelamat mengerjakan..1. Pada masa Kerajaan Mataram Hindu terjadi persaingan wangsa/dinasti. Persaingan tersebut berupa persaingan dalam mendapatkan dominasi dalam politik dan penyebaran agama. Kedua wangsa/dinasti yang memperebutkan dominasi tersebut memeluk dua agama yang berbeda, yakni wangsa ………… yang menganut agama Hindu, dan wangsa ……………... yang menganut agama Sanjaya – Syailendrab. Syailendra – Sanjayac. Rajasa – Girindrad. Sanjaya – Rajasae. Isyana – Syailendra2. Raden Wijaya merupakan menantu dari Kertanagara raja terakhir Singhasari yang kemudian bersumpah setia patuh kepada Jayakatwang. Raden Wijaya kemudian dimaafkan dan diberikan sebidang tanah di hutan Tarik. Tempat ini di kemudian hari dikenal sebagai pusat kerajaan….a. Majapahitb. Mataramc. Panjalud. Medange. Kadiri3. Pada masa pemerintahan Tribhuwana Tunggadewi, Gajah Mada atas prestasinya dinaikkan jabatannya dari patih menjadi mangkubumi mahapatih Kerajaan Majapahit. Diangkatnya Gajah Mada menjadi mahapatih tersebut disebabkan….a. Berhasil memperluas jaringan perdaganganb. Keberhasilannya mempersatukan nusantarac. Berhasil mempersatukan kerajaan Pajajarand. Berhasil menumpas pemberontakan Sadenge. Keberhasilan politik luar negeri Majapahit4. Bangunan-bangunan Megalitik pada dasarnya menggunakan bahan dasar….a. Logamb. Tanah liatc. Kayud. Pasire. Batu5. Tanda bahwa masyarakat memasuki zaman sejarah adalah ketika masyarakat telah .…a. Mengenal tulisanb. Memahami sejarahnya sendiric. Mampu merekam pengalaman masa lalud. Berkomunikasi dengan bahasa isyarate. Mampu menggunakan bahasa6. Perhatikan pernyataan di bawah ini!1 Naik takhta pada tahun 1268 M2 Bercita-cita menjadikan Singhasari kerajaan yang besar3 Setelah meninggal didharmmakan di dua tempat yaitu Candi Jawi di Pandaan, Pasuruan dan di Candi Singosari di daerah Singosari, MalangBerdasarkan keterangan di atas. Raja Kerajaan Singhasari yang dimaksud adalah….a. Ken Angrokb. Anusapatic. Tohjoyod. Ronggowunie. Kertanegara7. Setelah pemindahan pusat kerajaan dari Jawa bagian tengah ke Jawa bagian Timur, Kerajaan Medang dipimpin oleh seorang raja bernama Rake Halu Pu Sindok. Mengingat statusnya hanya sebagai menantu raja terdahulu, maka ia mendirikan sebuah dinasti baru yang disebut sebagai dinasti….a. Rajasab. Girindrac. Wijayad. Isyanae. Pemanahan8. Perhatikan pernyataan berikut!1 Mengiringi ritual kematian2 Mendinginkan air3 Upacara memanggil hujan4 Genderang perang5 Alat upacaraDari pernyataan tersebut, yang bukan fungsi nekara ditunjukkan nomor….a. 1b. 2c. 3d. 4e. 59. Sumber sejarah yang bisa menjelaskan Kerajaan Kutai yang utama adalah prasasti yang disebut Yupa, yaitu….a. Berupa batu tertulisb. Berupa kitabc. Berupa candid. Berupa nisane. Berupa kaligrafi10. Sriwijaya merupakan salah satu pusat perdagangan di Nusantara. Faktor yang menyebabkan Kerajaan Sriwijaya berpotensi besar dalam bidang perdagangan adalah….a. Adanya pendeta Buddha yang belajar agama di Sriwijayab. Raja di Kerajaan Sriwijaya terkenal sebagai raja yang bijaksanac. Letak Kerajaan Sriwijaya yang strategis di jalur pelayaran duniad. Adanya perkumpulan pedagang dari berbagai negara di Asiae. Sriwijaya merupakan pusat rempah-rempah di Nusantara11. Di bawah ini, pernyataan yang tidak terkait masuknya agama Islam di Indonesia adalah….a. Islam masuk ke Indonesia sejak abad ke-7 masehib. Islam masuk dengan cara penaklukanc. Islam masuk secara bertahap dan prosesnya masih terus berjaland. Islam masuk dibawa oleh para musafire. Islam masuk melalui Gujarat, India12. Perhatikan data berikut ini!1 Nisan Sultan Malik as Saleh2 Nisan Fatimah binti Maimun3 Nisan Sultanah Nahrasiyah4 Nisan Troloyo, Trowulan5 Nisan Syekh Maulana Malik IbrahimBukti masuknya Islam di Pulau Jawa ditunjukkan nomor….a. 1, 2, dan 3b. 1, 3, dan 4c. 2, 3, dan 5d. 2, 4, dan 5e. 1, 4, dan 513. Perhatikan data berikut ini!1 Bhurloka2 Bhuvarloka3 Svarloka4 Kamadatu5 Rupadatu6 ArupadatuBagian-bagian candi Hindu ditunjukkan nomor....a. 1, 2, dan 3b. 1, 3, dan 4c. 1, 4, dan 5d. 2, 5, dan 6e. 2, 4, dan 614. Adanya tradisi Tabot di Pariaman, Sumatera Barat mendukung teori yang menyatakan Islam di Indonesia dibawa masuk oleh bangsa….a. Arabb. Persiac. Indiad. Gujarate. Bengal15. Perhatikan data berikut ini!1 Nisan Sultan Malik as Saleh2 Nisan Fatimah binti Maimun3 Nisan Syekh Maulana Malik Ibrahim4 Berita Marcopolo yang singgah di Perlak 1292 M5 Hikayat BanjarBukti masuknya Islam di Pulau Sumatera ditunjukkan nomor….a. 1 dan 2b. 1 dan 3c. 2 dan 3d. 2 dan 4e. 3 dan 516. Alasan bangsa Indonesia mendapatkan julukan sebagai bangsa pelaut adalah….a. Memiliki perahu bercadikb. Mempunyai laut yang luasc. Banyak yang menjadi nelayand. Terbiasa mengarungi lautane. Memiliki armada kapal yang banyak17. Dalam teori sejarah masuknya Islam di Indonesia, ada satu teori yang menyatakan bahwa Islam yang datang ke wilayah Indonesia berasal dari Gujarat. Hal ini berdasarkan bukti ...a. Daerah Gujarat penduduknya mayoritas Islamb. Agama Islam di Gujarat beraliran ahlussunnah wal jamaahc. Ada persamaan, yaitu sebelumnya beragama Hindud. Batu nisan makam Sultan Malik As Saleh, yang bercorak Gujarate. Daerah Gujarat merupakan daerah perdagangan yang ramai18. Sistem pemerintahan yang dianut oleh masyarakat Indonesia sebelum masuknya pengaruh agama Hindu-Buddha adalah sistem pemerintahan desa yang dipimpin oleh seorang kepala suku. Kepala suku tersebut dipilih atas dasar….a. Kekuatan dan kelebihannyab. Banyaknya anggota keluargac. Kedekatan dengan dukun desad. Kekayaan materinyae. Kecakapan dalam berbicara19. Jalur perdagangan pada masa dahulu sangat penting dalam penyebaran agama. Setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis tahun 1511, terjadi perubahan jalur perdagangan laut. Dampak dari perubahan tersebut adalah….a. Munculnya jalur alternatif dengan melintasi pantai barat Sumatera ke Selat Sundab. Pedagang dari Bengal, Turki, Arab, Persia, dan Siam datang ke Acehc. Munculnya jalur alternatif dengan melintasi pantai timur Sumatera ke Selat Sundad. Munculnya pelabuhan perantara baru di Sulawesi dan Kalimantane. Terjadi peningkatan hubungan dagang dengan dunia barat20. Pada tahun 1755 berakhir sudah riwayat Kesultanan Mataram setelah VOC ikut campur dalam Perang Suksesi III. Akibatnya wilayah kekuasaannya kemudian dibagi menjadi dua, yakni Kesunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Hal ini merupakan hasil dari perjanjian….a. Giyantib. Ungaranc. Kartasurad. Salatigae. Surakarta21. Awal berdirinya Kesultanan Banjar tidak terlepas dari adanya konflik internal antara Raden Samudera dengan Pangeran Tumenggung. Raden Samudera lantas meminta bantuan Kesultanan Demak, Demak menyanggupi permintaan tersebut dengan syarat bahwa….a. Kesultanan Banjar bersedia tunduk kepada Demakb. Raden Samudera bersedia memeluk ajaran Islamc. Rakyat Banjar bersedia menjadi prajurit Demakd. Kesultanan Banjar menyerahkan upeti kepada Demake. Putri Raden Samudera dinikahkan dengan raja Demak22. Perhatikan pernyataan berikut!1 Karya sastra yang berisi cerita sejarah ataupun dongeng2 Banyak ditulis berbagai peristiwa yang menarik, keajaiban, atau hal-hal yang tidak masuk akal3 Ditulis dalam bentuk gancaran karangan bebas atau prosaBerdasarkan keterangan-keterangan tersebut, seni sastra yang dimaksud adalah….a. Sulukb. Syairc. Hikayatd. Babade. Puisi23. Pengaruh kebudayaan Hindu dalam bangunan masjid di Indonesia dapat dilihat dari….a. Menyembunyikan beduk sebagai tanda salatb. Letak masjid berada di dekat alun-alunc. Arah hadap masjid selalu menghadap ke timurd. Atap masjid berbentuk meru atau tumpange. Masjid dibangun dengan material beton24. Kerajaan Demak pada masa pemerintahan Sultan Trenggono mengalami zaman kejayaan. Wilayah kekuasaannya meluas sampai Jawa Barat dan Jawa Timur. Namun setelah Sultan Trenggono meninggal kerajaan mengalami kemunduran, karena….a. Terjadinya perebutan kekuasaanb. Adanya serangan Portugis dari Malakac. Adanya bencana alam berupa banjir bandangd. Tidak didukung lagi oleh para walie. Semua wilayah kekuasaannya melepaskan diri25. Putra Raden Patah, Pati Unus mendapatkan julukan Pangeran Sabrang Lor karena….a. Mampu menanamkan pengaruh Islam sampai ke negeri seberang Banjarmasinb. Menyeberangi Laut Jawa menuju Malaka untuk melawan Portugisc. Menyerang Sunda Kelapa melalui Laut Jawad. Memiliki kemampuan perang yang luar biasae. Memiliki darah keturunan negeri seberang Palembang Death is an important event that is deeply moving in a drama of life, so that such events never allowed to pass. In the traditiorfoiety, the death is always raising different ritual, that is, the sacred ritual. Javanese moslems have special ritual. The ritual is acculturation between Hindu, Budha and Islamic continually in the past, and now it appears a new tradition. This tradition is different from those in other countries Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free Sabda Volume 12, Nomor 2, Desember 2017 ISSN 1410–7910 E-ISSN 2549-1628 TRADISI MASYARAKAT NELAYAN RAWA PENING KELURAHAN BEJALEN KECAMATAN AMBARAWA KABUPATEN SEMARANG 161 MAKNA RITUAL KEMATIAN DALAM TRADISI ISLAM JAWA Abdul Karim Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Telepon 081325438820 Abstract Death is an important event that is deeply moving in a drama of life, so that such events never allowed to pass. In the traditiorfoiety, the death is always raising different ritual, that is, the sacred ritual. Javanese moslems have special ritual. The ritual is acculturation between Hindu, Budha and Islamic continually in the past, and now it appears a new tradition. This tradition is different from those in other countries. Key words Ritual, acculturation, Hindu-Buddist Influence, Javanese Moslem 1. Pendahuluan Kematian di dalam kebudayaan apapun hampir pasti disertai acara ritual. Ada berbagai alasan mengapa kematian harus disikapi dengan acara ritual. Masyarakat Jawa memandang kematian bukan sebagai peralihan status baru bagi orang yang mati. Segala status yang disandang semasa hidup ditelanjangi digantikan dengan citra kehidupan luhur. Dalam hal ini makna kematian bagi orang Jawa mengacu kepada pengertian kembali ke asal mula keberadaan sangkan paraning dumadi. Kematian dalam budaya Jawa selalu dilakukan acara ritual oleh yang ditinggal mati. Setelah orang meninggal biasanya dilakukan upacara doa, sesaji, selamatan, pembagian waris, pelunasan hutang dan sebagainya Layungkuning, 2013 98-99. Dalam sudut pandang Islam sesungguhnya Allah swt adalah dzat yang menciptakan manusia yang memberikan kehidupan dengan dilahirkannya ke dunia, kemudian menjemputnya dengan kematian untuk mengahadap kembali kepada-Nya. Itulah garis yang telah ditentukan oleh Allah kepada makhluk-Nya, tidak ada yang dilahirkan ke dunia ini lantas hidup untuk selamanya. Roda dunia ini terus berputar dan silih berganti kehidupan dan kematian di muka bumi ini, hukum ini berlaku bagi siapapun tidak membedakan jenis kelamin laki-laki atau perempuan, tua atau muda, miskin atau kaya, rakyat atau pejabat. Pendeknya segala macam perbedaan kasta dan status sosial semua harus tunduk kepada hukum alam yang telah ditentukan Allah swt sunnatullah. Penulis menyatakan bahwa kematian merupakan sebuah fenomena, karena kematian terus terjadi berulang-ulang, dengan objek yang sama yaitu manusia. Semua manusia pasti akan dijemput oleh kematian. Saya dan anda tentu juga manusia yang berarti bahwa saya dan juga anda akan menjumpai kematian itu. Mungkin anda lebih dulu menjumpai kematian dari pada saya, atau sebaliknya saya lebih akhir dijemput oleh kematian dan pada anda. Yang pasti ketika kematian itu sudah datang menjemput, maka tak seorangpun dapat menghindarinya. Sebagaimana firman Allah swt dalam surat al-Jum’ah ayat 8 yang artinya “Katakanlah. Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada Allah, yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. Sadar atau tidak sesungguhnya setiap hari manusia sudah diberikan gambaran dan pelajaran oleh Allah swt tentang kelahiran dan kematian yang akan dialami oleh semua manusia. Simak saja aktifitas manusia dari mulai bangun tidur kemudian tidur kembali. Bangun dan tidur merupakan gambaran metaforis akan kelahiran manusia. Oleh karena itu Rasulullah mengajarkan doa kepada Sabda Volume 12, Nomor 2, Desember 2017 ISSN 1410–7910 E-ISSN 2549-1628 TRADISI MASYARAKAT NELAYAN RAWA PENING KELURAHAN BEJALEN KECAMATAN AMBARAWA KABUPATEN SEMARANG 162 manusia ketika bangun tidur dengan mengatakan “Alhamdulillahi, alladzi ahyana ba „da ma amatana wa ilaihinnusyur” Artinya “Segala puji bagimu ya Allah, yang telah menghidupkan kembali diriku setelah kematianku, dan hanya kepada-Mu nantinya kami semua akan berpulang kepada-Mu”. Demikian indahnya untaian doa tersebut, dan begitu dalam makna dan pesan doa tersebut. Bahwa setiap pagi adalah hari kelahiran dan sebaliknya setiap malam adalah malam kematian Hidayat, 2005 4-6. Karena setiap malam ketika seseorang tidur sesungguhnya telah mengalami kematian sesaat sampai orang tersebut bangun kembali. Hal ini pula tersirat dalam doa menjelang tidur yang telah diajarkan oleh Rasulullah saw, sebagaimana berikut “Bismika Allahumma Ahya wa Amut”, yang artinya Ya Allah dengan Asma-Mu aku menjalani hidup dan dengan Asma-Mu pula aku menjalani kematian malam ini. Membahas tentang kematian secara psikologis menimbulkan suatu pengaruh kejiwaan antara menerima dan keterpaksaan dalam menghadapi kematian tersebut. Akan terasa sedih ketika manusia dijemput oleh kematiannya sedangkan ia dalam keadaan terlena oleh kehidupan dunia sementara kematian menjadi penghalangnya untuk mencintai dan menikmati segala fasilitas yang menggiurkan dan menyenangkan berupa harta benda, pangkat jabatan dan sebagainya. Oleh karena itu sering kali kesadaran tersebut memunculkan sebuah protes psikologis berupa penolakan terhadap kematian, bahwa masing-masing orang tidak mau mengalami kematian. Setiap orang berusaha menghindari semua jalan yang mendekatkan diri dari pintu kematian, mendambakan dan membayangkan keabadian. Pemberontakan dan penolakan terhadap kematian ini kemudian melahirkan dua madzhab psikologi kematian, yaitu Hidayat, 2005 xvi-xvii 1. Madzhab relegius, yaitu mereka yang menjadikan agama sebagai rujukan bahwa keabadian setelah mati itu ada, dan untuk memperoleh kebahagiaan yang abadi seseorang yang beragama menjadikan kehidupan akhirat sebagai objek dan target yang paling utama. Kehidupan dunia layak untuk dinikmati, akan tetapi itu bukan tujuan akhir dari sebuah proses kehidupan. Sehingga apapun yang dilakukan ketika hidup di dunia adalah merupakan inventaris seseorang untuk dinikmati kelak di akhirat. 2. Madzhab sekuler, yaitu mereka yang tidak peduli dan tidak yakin akan adanya kehidupan setelah kematian. Namun secara psikologis keduanya memiliki kesamaan yaitu spirit heroisme yang mendambakan keabadian hidup agar dirinya dapat dikenang sepanjang masa. Untuk memenuhi keinginan itu seseorang ingin menyumbangkan sesuatu yang besar dalam hidupnya untuk keluarga, masyarakat, bangsa dan dunia. Maka setiap orang berusaha untuk meninggalkan warisan bagi orang lain. Ketika al-Qur’an berbicara tentang kematian, banyak perspektif yang bisa digunakan dalam memahami makna kematian itu sendiri. Kalau selama ini al-Qur’an lebih dipahami secara literal dan tekstual, maka pemahaman akan kematian hanya sekedar manusia dapatkan dari apa yang terdapat dalam bunyi teks itu sendiri. Jika manusia pahami al-Qur’an secara kontekstual maka al-Qur’an akan banyak memberi pemahaman yang beragam mengenai hakekat kematian. Mungkin manusia akan memperoleh banyak informasi tentang arti dan hidup dan mati baik yang tersirat maupun yang tersurat. Sabda Volume 12, Nomor 2, Desember 2017 ISSN 1410–7910 E-ISSN 2549-1628 TRADISI MASYARAKAT NELAYAN RAWA PENING KELURAHAN BEJALEN KECAMATAN AMBARAWA KABUPATEN SEMARANG 163 Ada korelasi antara upacara kematian dalam ajaran Islam yang telah dipraktikkan oleh Rasulullah SAW dengan ritual kematian yang berlaku di dalam masyarakat Jawa. Kehadiran Islam kemudian memberikan pengaruh sinergis antara upacara kematian dalam ajaran Islam dengan tradisi yang sudah ada pada masa Hindu-Budha. Di sinilah al-Qur’an dimaksudkan bukan bagaimana individu atau kelompok orang memahami al-Qur’an penafsiran, tetapi bagaimana al-Qur’an itu disikapi dan direspon oleh masyarakat Muslim dalam realitas kehidupan sehari-hari menurut konteks budaya dan pergaulan sosial. Apa yang dilakukan adalah merupakan panggilan jiwa yang merupakan kewajiban moral untuk memberikan penghargaan, penghormatan dan cara memuliakan kitab suci yang diharapkan pahala dan berkah dan al-Qur’an sebagaimana keyakinan umat Islam terhadap fungsi al-Qur’an yang dinyatakan sendiri secara beragam. Oleh karena itu maksud yang dikandung bisa saja sama tetapi ekpresi dan ekspektasi masyarakat terhadap al-Qur’an antara kelompok, golongan, etnis dan antar bangsa satu dan yang lainnya bisajadi berbeda Mansyur, dkk, 2007 49-50. 2. Konsep tentang Kematian Mati dalam bahasa Jawa disebut dengan pejah. Konsepsi orang Jawa tentang kematian dapat dilihat dari konsepsi mereka tentang kehidupan. Bagaimana cara orang Jawa melihat kehidupan akan sangat terkait dengan bagaimana orang mempersepsikan tentang kematian. Orang Jawa seringkali merumuskan konsep aksiologis bahwa urip iki mung mampir ngombe hidup ini cuma sekedar mampir minum. Atau dengan konsep yang lain, urip iki mung sakdermo nglakoni hidup ini cuma sekedar menjalani atau nrima ing pandhum menerima apa yang menjadi pemberian-Nya. Menurut pemahaman orang Jawa, setiap manusia telah digariskan oleh takdir. Baik atau buruk, bahagia atau derita, kaya atau miskin adalah buah dan ketentuan takdir yang harus diterima dengan sikap legawa. Sedangkan sikap legawa adalah situasi batin yang muncul karena suatu sikap nrima ing pandhum itu sendiri, kemampuan diri untuk menerima segala bentuk kehidupan yang ada sebagaimana adanya Layungkuning, 2013 100-101. Sedangkan secara etimologi/harfiah mati itu terjemahan dan bahasa Arab mata-yamutu-mautan. Yang memiliki beberapa kemungkinan arti, di antaranya adalah berarti mati, menjadi tenang, reda, menjadi usang, dan tak berpenghuni Munawwir, 1997 1365-1366. Dalam beberapa kamus bahasa Arab, kata al-maut adalah lawan dan al-hayah, dan al-mayyit yang mati merupakan lawan kata dan al-hayy yang hidup. Asal arti kata al-maut dalam bahasa arab adalah as-sukun diam. Semua yang telah diam maka dia telah mati. Mereka orang-orang arab berkata “matat an-nar mautan” api itu benar-benar telah mati, jika abunya telah dingin dan tidak tersisa sedikitpun dan baranya. “mata al-harr wa al-bard” panas dan dingin telah mati, jika ia telah lenyap. “matat ar-rih” angin itu telah mati, jika ia berhenti dan diam. “matat al-Khamr” khamr itu telah mati, jika telah berhenti gejolaknya, dan “al-maut” segala apa saja yang tidak bernyawa Ibnu Manzhur, 774, 547, 773 dan AlAsyqar, 2005 2 1-22. Adapun dalam terminologi agama, mati adalah keluarnya ruh dan jasad atas perintah Allah swt. Tidak seorangpun memilki kewenangan tersebut kecuali Allahlah yang memiliki otoritas untuk mengambil ruh dari jasad dengan memerintahkan malaikat Izrail untuk mencabutnya Ash-Shufi, 2007 3. Kematian adalah berpisahnya ruh nyawa dengan tubuh jasad untuk sementara waktu yang telah ditentukan. Jadi mati itu adalah ketika ruh meninggalkan tubuh dan ke luar dan dalamnya yang telah dicabut oleh malaikat Izrail pencabut nyawa. Adapun terpisahnya ruh dengan tubuh itu Sabda Volume 12, Nomor 2, Desember 2017 ISSN 1410–7910 E-ISSN 2549-1628 TRADISI MASYARAKAT NELAYAN RAWA PENING KELURAHAN BEJALEN KECAMATAN AMBARAWA KABUPATEN SEMARANG 164 bukanlah untuk selama-lamanya, akan tetapi perpisahan itu hanyalah dalam waktu sementara saja. Setelah manusia mati kemudian dimandikan, dikafani, dishalati dan dikuburkan. Selanjutnya ruh yang telah berpisah dengan tubuh tersebut nanti akan kembali lagi memasuki tubuhnya. Di dalam al-Qur’an dijelaskan bahwa setelah manusia itu mati dan dikuburkan maka ia akan dihidupkan kembali sebagaimana firman Allah swt. Surat al-!Baqarah ayat 28 dan 56, juga Qs. Al-Hajj 7 Umar, 1979 38-39. Al-Qur’an berbicara tentang kematian dalam banyak ayat, sementara para pakar memperkirakan tidak kurang dari tiga ratusan ayat yang berbicara tentang berbagai aspek kematian dan kehidupan sesudah kematian kedua Shihab, 1996 9 1-92. Berikut ini adalah di antara ayat-ayat tentang kematian dalam A1-Qur’an, Qs. al-Baqarah 19, 28, 94, 95, 132, 161, 180 dan 243. Sebagai berikut Artinya “atau seperti orang-orang yang ditimpa hujan lebat dan langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena mendengar suara petir, sebab takut akan mati. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir.” Qs. Al-Baqarah 19 Artinya “Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?” Qs. Al-Ba qarah 28 Artinya Katakanlah “Jika kamu menganggap bahwa kampung akhirat surga itu khusus untukmu di sisi Allah, bukan untuk orang lain, ma/ca inginilah kematian mu, jika kamu memang benar.” Qs. Al-Baqarah 94 Artinya. “Dan sekali-kali mere/ca tidak akan mengingini kematian itu selama-lamanya, karena kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat oleh tangan mereka sendiri. Dan Allah Maha Mengetahui siapa orang-orang yang aniaya.” Qs. Al-Baqarah 94. 3. Hakekat Kematian Dalam perspektif Jawa kematian hakekatnya adalah mulih pulang ke asal mulanya. Orang Jawa memahami kehidupan dan kematian dalam filosofi sangkan paraning dumadi untuk mengetahui kemana tujuan manudia setelah hidup berada di akhir hayat. Hal ini tersirat maknanya dalam kalimat tembang Dhandanggula warisan para leluhur Sabda Volume 12, Nomor 2, Desember 2017 ISSN 1410–7910 E-ISSN 2549-1628 TRADISI MASYARAKAT NELAYAN RAWA PENING KELURAHAN BEJALEN KECAMATAN AMBARAWA KABUPATEN SEMARANG 165 “kawruhana sejatining urip ana jeruning alam donya/bebasane mampir ngombe/umpama manuk mabur/lunga saka kurungan niki/pundi pencokan benjang/awja kongsi kaleru/njan sinanjan ora wurung ba/cal mulih/umpama lunga sesanja/ mulih mula mulanira.” ketahuilah sejatinya hidup, hidup di alam dunia, ibarat perumpamaan mampir minum, ibarat burung terbang, pergi dan kurungannya, di mana hinggapnya besok, jangan sampai keliru, umpama orang pergi bertandang, saling bertandang, yang pasti bakal pulang, pulang ke asal mulanya Layungkuning, 2013 109-110. Berbicara tentang hakikat kematian adalah merupakan persoalan yang sangat rumit. Karena persoalan hakekat itu adalah ranah ontologis dalam dimensi filsafat. Namun untuk masuk pada tahap awal mengetahui hakikat kematian itu sendiri, maka penulis berpendapat bahwa kematian adalah merupakan fase dan sebuah perjalanan mahluk hidup itu sendiri yang menjadi awal dan terlepasnya belunggu kehidupan di dunia. Rasulullah sendiri pernah mengatakan bahwa sesungguhnya dunia itu merupakan belenggu penjara bagi orang yang beriman. Kalau analoginya dunia adalah bermakna kehidupan jasad seseorang dan keimanan adalah ruh yang besemayam di dalamnya, maka Artinya bahwa terlepasnya kehidupan di dunia ini merupakan kata kunci untuk menyibak hakikat dan kematian itu sendiri. Jika demikian maka sesungguhnya kehidupan adalah hakikat dan kematian itu sendiri. Karena kematian itu sesungguhnya adalah proses untuk menuju suatu kehidupan yang lebih hakiki. Yaitu kehidupan akhirat yang kekal abadi. Persoalan kematian sebenarnya adalah persoalan materi dan bukan pada persoalan nih. Karena ruh itu yang membuat suatu materi itu menjadi hidup. Tanpa nih segala hal yang berupa materi adalah mati. Dalam pemikiran Syekh Siti Jenar menyatakan bahwa “dunia ini adalah alam kematian”. Dunia adalah alam kubur dan raga adalah sebuah terali besi yang menahan jiwa berada di dunia dan merasakan kesusahan hidup di dunia, seperti rasa haus, lapar, dan sedih. Hidup sesungguhnya hanyalah sebuah persiapan untuk memasuki kehidupan yang sebenamya. dan jika tidak siap, maka jiwa akan terperangkap ke dalam alam kematian kembali yang bersifat mayit atau bangkai. Hidup yang sebenarnya adalah hidup tanpa raga, karena raga telah banyak menimbulkan kesesatan. Raga adalah kerangkeng bagi diri atau jiwa yang menyebabkan manusia hidup dalam banyak penderitaan Chodjim, 2002 22-24. Sesungguhnya hakikat hidup adalah kekal selamanya dan tak tertimpa kematian. Perputaran bumi pada porosnya, atau terjadinya siang dan malam adalah merupakan analogi yang menggambarkan tentang hal hidup dan mati. Ketika manusia lahir, dia sebenarnya “born to die” lahir untuk menuju kematiannya. Dunia bukan jalan hidup tetapi jalan menuju kematian. Hidup yang sebenarnya adalah tanpa raga, telanjang dalam wujud frekuensi murni. Kebutuhan manusia di dunia akan makanan dan minuman atau sandang, pangan, papan pakaian, makanan dan tempat tinggal selama di dunia hanyalah sarana untuk menunda kematian, sedangkan kelahiran manusia tak lain adalah proses kematian itu sendiri, karena kematian itu tidak bisa dihentikan Chodjim, 2002 27. 3. Asal Usul Ritual Kematian dalam Islam Jawa Asal usul ritual kematian dalam masyarakat Islam Jawa itu sudah ada sejak dulu sebelum Hindu dan Budha. Kemudian masuknya agama Hindu dan Budha memberikan pengaruh dan terbentuknya budaya baru yang merupakan ajaran Hindu dan Budha. Ada beberapa tradisi yang berasal dari agama Hindu dan Budha, di antaranya adalah sebagai berikut Sabda Volume 12, Nomor 2, Desember 2017 ISSN 1410–7910 E-ISSN 2549-1628 TRADISI MASYARAKAT NELAYAN RAWA PENING KELURAHAN BEJALEN KECAMATAN AMBARAWA KABUPATEN SEMARANG 166 Pertama, tentang doa selamatan kematian 7, 40, 100 dan 1000 hari. Manusia mengenal sebuah ritual keagamaan di dalam masyarakat muslim ketika terjadi kematian adalah menyelenggarakan selamatan/kenduri kematian berupa doa-doa, tahlilan, yasinan di hari ke 7, 40, 100, dan 1000 harinya. Dalam keyakinan Hindu ruh leluhur orang mati harus dihormati karena bisa menjadi dewa terdekat dan manusia. Selain itu dikenal juga dalam Hindu adanya samsara menitis/reinkarnasi. Dalam Kitab Manawa Dharma Sastra Weda Smerti hal. 99, 192, 193 dalam disebutkan “Termashurlah selamatan yang diadakan pada hari pertama, ketujuh, empat puluh, seratus dan seribu “. Dalam buku media Hindu yang benjudul “Nilai-nilai Hindu dalam budaya Jawa, serpihan yang tertinggal” dalam karya Ida Bedande Adi Suripto. Ia mengatakan “Upacara selamatan untuk memperingati hari kematian orang Jawa han ke 1, 7, 40, 100, dan 1000 hani adalah tradisi dari ajaran Hindu”. Sedangkan penyembelihan kurban untuk orang mati pada hari hari 1, 7, 4, dan 1000 terdapat pada kitab Panca Yadnya hal. 26, Bagawatgita hal. 5 no. 39 yang berbunyi “Tuhan telah menciptakan hewan untuk upacara korban, upacara kurban telah diatur sedemikian rupa untuk kebaikan dunia.” Kedua, tentang selamatan yang biasa disebut Genduri Kenduri atau Kenduren. Genduri merupakan upacara ajaran Hindu. Masalah ini terdapat pada kitab sama weda hal. 373 no. 10 dalam dalam yang berbunyi “Sloka prastias mai plpisa tewikwani widuse bahra aranggayimaya jekmayipatsiyada duweni narah “. Antarkanlah sesembahan itu pada Tuhanmu Yang Maha Mengetahui. Namun demikian tidak berarti bahwa ritual kematian yang berlaku di masyarakat Islam Jawa sebagai prilaku sesat. Karena adat atau tradisi sejauh tidak bertentangan dengan nilai dan ajaran agama Islam maka itu tidak ada larangan. Budaya merupakan fitrah yang diberikan oleh Tuhan kepada seluruh manusia yang hidup di muka bumi ini, dan Allah menciptakan manusia memang dalam bentuk keragaman suku dan bangsa yang memiliki keragaman budaya. Sehingga tidak ada alasan sebuah budaya dijustifikasi sebagai sesuatu yang sesat. Budaya merupakan khazanah dan aset bangsa, harus dilestarikan dan dikembangkan bukan untuk digusur dan dimatikan. 5. Makna yang Terkandung dalam Ritual Kematian Masyarakat Islam Jawa Tradisi yang dilakukan oleh masyarakat di desa penulis desa Bakalan Kalinyamatan Jepara dan juga di masyarakat Jawa pada umumnya dalam menghadapi peristiwa kematian, hampir sama persis dengan apa yang disampaikan oleh Geertz dalam buku The Religion of Java. Ia menjelaskan bahwa ketika terjadi kematian di suatu keluarga, maka hal pertama yang harus dilakukan adalah memanggil modin, selanjutnya menyampaikan berita kematian tersebut di daerah sekitar bahwa suatu kematian telah terjadi. Kalau kematian itu terjadi sore atau malam hari, mereka menunggu sampai pagi berikutnya untuk memeulai proses pemakaman. Pemakaman orang Jawa dilaksanakan secepat mungkin sesudah kematian. Segera setelah mendengar berita kematian, para tetangga meninggalkan semua pekerjaan yang sedang dilakukannnya untuk pergi ke rumah keluarga yang tertimpa kematian tersebut. Setiap perempuan membawa sebaki beras, yang setelah diambil sejumput oleh orang yang sedang berduka cita untuk disebarkan ke luar pintu, kemudian segera ditanak untuk slametan. Orang laki-laki membawa alat-alat pembuat nisan usungan untuk membawa mayat ke makam, dan lembaran Sabda Volume 12, Nomor 2, Desember 2017 ISSN 1410–7910 E-ISSN 2549-1628 TRADISI MASYARAKAT NELAYAN RAWA PENING KELURAHAN BEJALEN KECAMATAN AMBARAWA KABUPATEN SEMARANG 167 papan untuk diletakkan di liang lahad. Dalam kenyataannya hanya sekitar setengah lusin orang yang perlu membawa alat-alat itu; sebaliknya hanya sekedar datang dan berdiri sambil ngobrol di sekitar halaman Geertz, 1983 91-92. Dalam tradisi masyarakat Islam Jawa kematian seseorang dalam ritual pemakamannya pertama terdapat ritual semacam “pembekalan” bagi ruh dalam fase kehidupannya di alam yang baru. Karena ruh itu tidak pernah mati, oleh karena itu pembekalan terhadap nih orang yang meninggal diyakini dapat ditangkap dan dirasakan oleh ruh orang yang telah meninggal tersebut. Di antarnya adalah dikumandangkannya adzan dan iqamah setelah mayat diletakkan di liang lahat dan sebelum ditimbun dengan tanah, setelah itu dibacakan telkin taiqin. Modin membacakan telkin yang merupakan rangkaian pidato pemakaman yang ditujukan kepada almarhum, pertama-tama dalam bahasa Arab dan kemudian dalam bahasa Jawa Geertz, 1983 95. Taiqin dalam bahasa Arab maknanya adalah mendikte. Jadi taiqin adalah mendiktekan kata-kata atau kalimat tertentu agar ditirukan oleh orang yang barn meninggal tersebut. Yang dimaksudkan di sini adalah mengajarkan kepada ruh agar dapat mengingat dan menjawab pertanyaan di alam kubur. Tradisi ini di sandarkan pada kenyataan teologis bahwa ketika seseorang telah dikuburkan maka Allah akan mendatangkan dua malaikat penanya si mayat di dalam kubur. Sehingga subtansi taiqin itu sesungguhnya mengingatkan pada ruh jenazah tentang pertanyaan-pertanyaan di dalam kubur. Masyarakat umumnya meyakini bahwa ruh orang yang di kubur dapat mendengar dan merasakan kehadiran orang yang masih hidup, bahkan menjawab salam orang yang mengunjunginya. Dengan demikian ketika dibacakan taiqin terhadapnya setelah dikuburkan maka ia dapat mendengar nasihat dan memperoleh manfaat darinya Sholikhin, 2010 20-25. Situasi sosial budaya masyarakat Islam Jawa dapat dilihat dan kebiasaan adat, baik yang berkaitan dengan ritual keagamaan maupun tradisi lokal masyarakat tersebut, di antaranya Selamatan orang yang telah meninggal. Tradisi ini dilakukan setiap ada orang yang meninggal dunia dan dilaksanakan oleh keluarga yang ditinggalkan. Adapun waktu pelaksanaannya yaitu sebagai berikut Layungkuning, 2013 117-118 1. Bertepatan dengan kematian ngesur tanah dengan rumusan jisarji, maksudnya hari kesatu dan pasaran juga kesatu; 2. Nelung dina dengan rumus lusaru, yaitu hari ketiga dan pasaran ketiga 3. Tujuh hari setelah kematian mitung dina dengan rumusan tusaro, yaitu hari ketujuh dan pasaran kedua; 4. Empat puluh han metangpuluh dina dengan rumus masarama, yaitu hari ke lima dan pasaran ke lima; 5. Seratus hari nyatus dina dengan rumus rosarama yaitu hari ke dua pasaran ke lima; 6. Satu tahun setelah kematian mendak pisan dengan rumus patsarpat, yaitu hari ke empat dan pasaran ke empat; 7. Tahun ke dua mendhak pindho, dengan rumus jisarly, yaitu hari satu dan pasaran ketiga; 8. Seribu hari setelah kematian nyewu, dengan rumus nemasarma, yaitu hari ke enam dan pasaran ke lima; 9. Haul khol, peringatan kematian pada setiap tahun dan meninggalnya seseorang. Ngesur tanah memiliki makna bahwa jenazah yang dikebumikan berarti perpindahan dari alam fana ke alam baka, asal manusia dari tanah selanjutnya Sabda Volume 12, Nomor 2, Desember 2017 ISSN 1410–7910 E-ISSN 2549-1628 TRADISI MASYARAKAT NELAYAN RAWA PENING KELURAHAN BEJALEN KECAMATAN AMBARAWA KABUPATEN SEMARANG 168 kembali ke tanah. Selamatan ke tiga hari berfungsi untuk menyempurnakan empat perkara yang disebut anasir hidup manusia, yaitu bumi, api, angin dan air. Selamatan ke tujuh hari berfungsi untuk menyempurnakan kulit dan kuku. Selamatan empat puluh hari berfungsi untuk menyempurnakan pembawaan dan ayah dan ibu berupa darah, daging, sum-sum, jeroan isi perut, kuku, rambut, tulang dan otot. Selamatan seratus hari berfungsi untuk menyempurnakan semua hal yang bersifat badan wadag. Selamatan mendhak pisan untuk menyempurnakan kulit, daging, dan jeroan. Selametan mendhak pindho berfungsi untuk menyempurnakan semua kulit, darah dan semacamnya yang tinggal hanyalah tulangnya saja. Upacara selamatan tiga han memiliki arti memberi penghormatan pada nih yang meninggal. Orang Jawa berkeyakinan bahwa orang yang meninggal itu masih berada di dalam rumah. Ia sudah mulai berkeliaran mencari jalan untuk meninggalkan rumah. Upacara selamatan hari ketujuh berarti melakukan penghormatan terhadap nih yang mulai akan ke luar rumah. Dalam selamatan selama tujuh hari dibacakan tahlil, yang berarti membaca kalimah la ilaha illa Allah, agar dosa-dosa orang yang telah meninggal diampuni oleh-Nya. Upacara selamatan empat puluh hari matangpuluh dina, dimaksudkan untuk memberi penghormatan nih yang sudah mulai ke luar dan pekarangan. Ruh sudah mulai bergerak menuju ke alam kubur. Upacara seratus hari nyatus dina, untuk memberikan penghormatan terhadap ruh yang sudah berada di alam kubur. Di alam kubur ini ruh masih sering pulang ke rumah keluarganya sampai upacara selamatan tahun pertama dan peringatan tahun ke dua. Ruh baru tidak akan kembali ke rumah dan benar-benar meninggalkan keluarga setelah peringatan seribu hari Layungkuning, 2013 118-119. Salah satu ritual kematian masyarakat Jawa adalah ritual geblagan. Geblag adalah salah satu ritual yang ada dalam tradisi masyarakat Jawa sebagai sebuah ritual kecil yang dilakukan pada hari peringatan kematian seseorang. Dalam ritual tersebut ada simbolisme yang sebenarnya mengandung banyak makna. Misalnya, seseorang meninggal dunia pada hari Rabu Pon jam maka setiap Rabu Pon jam keluarga yang ditinggalkan melaksanakan ritual kecil yang disebut geblagan, sebagai bentuk peringatan dan penghormatan terhadap anggota keluarga yang telah meninggal. Ritual tersebut sangat sederhana, dalam pelaksanaannya dilengkapi dengan sesajen sesaji dan disertai dengan pembakaran kemenyan atau dupa. Sesaji yang dipersembahkan juga sangat sederhana, berupa apem, kolak, ketan, gula kelapa, teh pahit atau kopi, sigaret, kembang telon, dan tidak lupa uang sebagai wajib. Setelah semua uba rampe yang diperlukan sudah siap, sesaji tersebut ditata di sebuah meja dilengkapi dengan penerang, teplok atau senthir. Setelah segala sesuatunya sudah siap, sesaji itu dipasrahke dipersembahkan, dengan doa dan diakhiri dengan pembakaran kemenyan atau dupa. Ritual ini selain dimaksudkan sebagai peringatan hari kematian, penghormatan, dan ritual pengiriman doa, dalam ritual gablagan juga terdapat beberapa pemikiran dan pandangan masyarakat Jawa, antara lain mengenai metafisika, khususnya antropologi metafisik dan kosmologi Layungkuning, 2013 120-121. Selanjutnya peringatan tahunan dan kematian seseorang atau yang disebut dengan haul khol memiliki arti untuk mengenang kembali memori perjalanan seseorang yang telah meninggal untuk dijadikan suri tauladan dan aspek kebaikan perilakunya, memberikan penghormatan dan penghargaan atas jasa-jasanya terhadap keluarga, masyarakat dan agamanya. Hal ini tentunya akan Sabda Volume 12, Nomor 2, Desember 2017 ISSN 1410–7910 E-ISSN 2549-1628 TRADISI MASYARAKAT NELAYAN RAWA PENING KELURAHAN BEJALEN KECAMATAN AMBARAWA KABUPATEN SEMARANG 169 memberikan spirit dan motivasi tersendiri bagi keluarga yang ditinggalkannya. Ritual acara khol ini biasanya hanya dilakukan oleh orang-orang dan status sosial tertentu. Seperti tokoh masyarakat, para kyai kharismatik dan orang-orang yang dianggap keluarganya sebagai seseorang yang memberikan peran yang sangat berarti bagi keluarga. Di samping tradisi tersebut di atas terdapat juga tradisi membaca surat Yasin setiap malam Jum’at yang dikhususkan untuk ahli kubur/orang-orang yang telah meninggal, dengan tujuan berdoa untuk memohonkan ampunan bagi arwah ahli kubur agar mendapatkan tempat yang baik di sisi-Nya, yaitu masuk ke dalam surga-Nya. Kemudian ada juga tradisi menyelenggarakan acara arwahan pada bulan Sya’ban yaitu keluarga mengundang masyarakat sekitar untuk datang ke rumah setelah shalat magrib atau setelah shalat Isya’ dengan mengadakan acara membaca surah Yasin dan Tahlil yang pahalanya dikhususkan bagi arwah ahli kubur dan keluarganya. Perlengkapan lain yang ada dalam upacara pemakaman jenasah, secara keseluruhan ada bermacam-macam 1. Sawur Sawur terdiri dari sejumlah uang logam, beras kuning beras yang dicampur dengan kunyit yang diparut ditambah kembang telon mawar, melati dan kenanga serta sirih kinang dan beberapa gelintir rokok linting. Semuanya itu ditempatkan dalam bokor atau takir wadah yang terbuat dan daun pisang. Seperti disebutkan di atas, hal ini dimaksudkan sebagai bekal si mati agar selalu mendapatkan kemurahan dari Tuhan, di samping juga ditujukan terhadap keluarga yang ditinggalkan. 2. Payung Payung yang digunakan dalam upacara kematian sering disebut payung jenasah. Payung itu mempunyai tangkai yang panjang. Payung itu digunakan untuk memayungi jenasah sejak keluar dan rumah hingga sampai di kuburan. Payung tersebut melambangkan perlindungan. Dalam upacara kematian, penggunaan payung melambangkan suatu maksud agar arwah Si mati selalu mendapatkan perlindungan dan Tuhan atau sering disebut “diayomayomi”. Sebagai bekal dalam perjalanan jauh, payung itu juga dimaksudkan untuk mendapat perlindungan dari panas dan hujan. 3. Sepasang maejan Biasa terbuat dan jenis kayu yang kuat dan tahan air serta awet. Dibuat dengan ukuran panjang sekitar 60 cm, lebar 15 cm, tebal sekitar 5 cm. Pada bagian atas berbentuk runcing agak menumpul dengan ukiran bunga melati. Sepasang maejan yang terdiri 2 buah itu ditanam di atas kuburan, satu di bagian arah kepala dan satunya lagi di bagian arah kaki. Maejan tersebut sebagai tanda bahwa pada tempat tersebut telah dikuburkan Seseorang. Maejan yang yang berada pada bagian arah kaki jenasah yang dikuburkan biasanya dituliskan nama orang yang dikuburkan di Situ beserta han, tanggal, bulan dan tahun kematiannya, dengan dasar tahun Jawa. Bentuknya yang runcing dan maejan tersebut sebagai lambang tombak raksasa. Sedangkan ukiran berbentuk/motif bunga melati sebagai lambang keharuman. 4. Sebuah tempayan kecil klenting atau kendi Kendi atau klenting digunakan untuk wadah air tawar yang dicampuri dengan serbuk atau minyak cendana dan kembang telon, yang nantinya akan disiramkan di atas kuburan dan maejan. Semua itu melambangkan kesucian, kesegaran dan keharuman nama si mati. 5. Degan krambil ijo kelapa hijau yang masih muda. Kelapa hijau yang masih muda itu nantinya, setelah jenasah dikuburkan, dibelah dan ainnya disiramkan di atas Sabda Volume 12, Nomor 2, Desember 2017 ISSN 1410–7910 E-ISSN 2549-1628 TRADISI MASYARAKAT NELAYAN RAWA PENING KELURAHAN BEJALEN KECAMATAN AMBARAWA KABUPATEN SEMARANG 170 kuburan. Sedangkan belahannya juga ditelungkupkan di atas kuburan itu pula. Maksudnya adalah sebagai air suci, juga air segar pelepas dahaga. Maksud yang lain ialah sebagai penolak bala dan keteguhan hati si mati. Dalam hal ini dikiaskan pohon kelapa sebagai pohon yang teguh dan tidak mudah terombang-ambing angin atau lainnya. 6. Gegar mayang Gegar mayang adalah semacam boket atau rangkaian bunga, yang terbuat dan janur daun kelapa muda dan bunga, yang biasanya ditancapkan pada sepotong batang pohon pisang, sepanjang kurang lebih 15 cm. Gagar mayang itu digunakan bila orang yang mati adalah orang remaja atau dewasa tetapi belum kawin. Hal itu dimaksudkan agar arwah si mati tidak mengganggu para pemuda atau pemudi dari keluarga sendiri maupun dari lingkungan desanya. 6. Simpulan Ritual kematian yang dilakukan oleh masyarakat Islam Jawa sesungguhnya merupakan adat masyarakat Jawa sebelum masuknya agama Islam. Tradisi ini kemudian mengalami proses akulturasi budaya antara Islam dan Jawa, sehingga nampak tradisi tersebut adalah tradisi yang khas Islam Jawa yang ada di Indonesia dan tidak dimiliki oleh masyarakat yang ada di negara lainnya. Sinergi budaya Islam dan Jawa ternyata membentuk sebuah kebudayaan baru yang memiliki makna dan tujuan-tujuan tertentu sebagaimana penulis telah uraikan. Daftar Pustaka Al-Asyqar, Umar Sulaiman. 2005. al-Yaum al-Akhir, al-Qiyamah Ash-Shuhra wa „Alamat al-Qiyamah al-Kubra, Kiamat Sughra Misteri dibalik Kematian, terj. Abdul Majid Alimin. Solo Era Intermedia. Ash-Shufi, Mahir Ahmad. 2007. Misteri Kematian dan Alam Barzakh. terj.. Solo Serangkai. Baqy, Muhammad Fuad. 1981. Abdul. Al-Mu jam al-Mufahras li Alfazh al-Qur‟an al-Karim. Cet. 2, Dar al-Fikr. Lebanon. Chodjim, Achmad. 2002. Syekh Siti Jenar Makna Kematian. Jakarta Serambi Ilmu Semesta . Geertz, Cli d. 983. The Religion of Java. Terj. JakartaAswab Mahasin Pustaka Jaya. Hidayat, Komarud 2005. Psikologi Kematian Mengubah Ketakutan Menjadi Optimisme, Jakarta PT Mizan Publika. diakses tanggal 7-8-2015. diakses tanggal 7-8-2015. Manzhur, Muhammad bin Makram Ibnu. Lisan al- „Arab, Beirut Dar Shadir, cet. I, vol. 1, dan vol. 3, Layungkuning, Bendung. 2013. Sangkan Paraning Dumadi Orang Jawa dan Rahasia Kematian. Yogyakarta Penerbit Narasi Mansyur, M. dkk. 2007. Metodologi Penelitian Living Qur‟an dan Hadis. 2007. TH-Press. 2007. Muawwir, Abmad Warson. 1997. Al-Munawwir Kamus Arab-Indonesia. Yogyakarta Unit Pengadaan Buku Ilmiah Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak. Rakhmat, Jalaluddin. 2006. Meraih Kebahagiaan. Bandung Simbiosa Rekatama Media. Shihab, M. Quraish. 1996. Wawasan Al-Quran Tafsir Maudhu‟i atas Pelbagai Persoalan Umat. Jakarta Mizan Pustaka. Sabda Volume 12, Nomor 2, Desember 2017 ISSN 1410–7910 E-ISSN 2549-1628 TRADISI MASYARAKAT NELAYAN RAWA PENING KELURAHAN BEJALEN KECAMATAN AMBARAWA KABUPATEN SEMARANG 171 Sholikhin, Muhammad. 2010. Ritual Kematian Islam Jawa. Pengaruh Tradisi Lokal Indonesia dalam Ritual Kematian Islam. Yogyakarta Penerbit Narasi. Umar, M. Ali Hasan. 1979. Alam Kubur Barzakh Digali dan Al-Qur „an dan Hadis. Semarang Toha Putra. ... Deaths and burials are often seen as big celebration, as seen in Toraja funerals Ismail, 2019aIsmail, , 2019b. Likewise, the culture of the Javanese Karim, 2017;Kurnianto, 2020;Satimin et al., 2021 and Sundanese Isnendes, 2019;Sunda, 1976, contributes to the meaning of funerals that has become a legacy which is still passed down from generation to generation. Local wisdom with traditions that are passed on from generation to generation has revealed how the funeral event became a ceremony that contained transcendent values. ...... In the Javanese tradition, there are three forms of death; disgraceful, intermediate, and primary Karim, 2015Karim, , 2017Suwito et al., 1970. First, disgraceful death is described when a person ends his life by committing suicide. ...... According to Karim 2017 and Suwito et al. 2015, SAWUR or SAWER culture is offered in Javanese and Sundanese culture. Sawur or sawer is a ceremony of respect for the dead, especially when the corpse will be buried. ...Nikasius JatmikoDeath is a certainty that humans cannot avoid. Everyone will face this event without exception. The difference lies in respecting the corpse before it is buried or cremated. Each region has its peculiarities in building a death ceremony. Culture plays a significant role in shaping the death ceremony based on local wisdom. These rites lead to the same goal placing death as a noble act. This study aims to preserve and explore cultural wealth that is becoming extinct according to the times. These methods show that humans have a high value and dignity compared to other creations, even though they have died. This value is maintained through various very noble awards. Javanese and Sundanese have similarities in respecting the bodies to be buried. The ritual of sawer or sawur is a value that distinguishes it from other cultures. Local wisdom is still maintained, even though modernity has begun to erode it.... Setiap peserta pelatihan diberikan modul pelatihan yang berisikan tentang hak dan kewajiban antara sesama Muslim, hukum dan kedudukan tajhiz mayit, serta tata cara penyelenggaraan perawatan jenazah berdasarkan sunnah Nabi Karim;2017 ...... Setiap peserta pelatihan diberikan modul pelatihan yang berisikan tentang hak dan kewajiban antara sesama Muslim, hukum dan kedudukan tajhiz mayit, serta tata cara penyelenggaraan perawatan jenazah berdasarkan sunnah Nabi Karim;2017 ...M MahbubiMuhammad Fadil MultazamAsh-Shiddiqi RamadhoniKondisi kesedihan keluarga di daerah yaitu sering mengalami ketidakmampuan dalam pengurusan jenazah. merawat jenazah menjadi fardhu kifayah bagi umat Islam dalam menyelenggarakan pengurusan jenazah dengan kewajiban untuk memandikan, mengkafani, menshalatkan serta menguburkan, karena rangkain prosesi pengurusan jenazah bermakna dalam nilai nilai kehidupan masyarakat. Permasalahan di atas menjadi alasan bagi kami, Tim KKN OBE 2022 UNUJA Prbolinggo untuk membentuk Tim pengabdian kepada masyarakat PKM dan mengadakan pelatihan perawatan jenazah sebagai usaha untuk membantu pengetahuan dalam pengurusan penyelenggaraan jenazah.... Belum ada kejelasanmengenaiproblem yang signifikan berkaitan dengan asal-muasal penyebaran Islam di Indonesia yang mungkin tidak akan di selesaikan karena kurangnya sumber-sumber yang bisa di percaya, sehingga banyak berbagai versi yang menyebutkan tentang penyebaran Islam di Indonesia. Sejarah Islam Jawa tidak sekedar soal kontroversi saja, tapi juga soal penegaan Islam sebagai agama kerajaan, suatu proses yang mengakibatkan banyak penghancuran kebudayaan Hindu-Budha yang ada atas kekuasaan keraton Karim, 2017. ...Bambang YuniartoArib MubarokAli RidhoNida NadiaLatar Belakang . Ritual sedekah laut adalah salah satu ritual yang dilakukan satu kali dalam setahun oleh masyarakat nelayan di desa Prapag Kidul, kecamatan Losari, kabupaten Brebes yang merupakan bentuk budaya yang memberikan sedekah ke laut yang dilakukan masyarakat untuk menjaga kesimbangan lingkungan pesisir pantai serta melestarikan warisan nenek moyang. Tradisi ritual sedekah laut di desa Prapag Kidul, kecamatan Losari, kabupaten Brebes merupakan bagian dari tradisi yang juga dilakukan oleh masyarakat nelayan di sepanjang pesisir utara laut jawa. Tujuan Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui terjadinya perubahan tradisi upacara sedekah laut masyarakat desa Prapag Kidul, kecamatan Losari, kabupaten Brebes. Metode adapun metode yang akan digunakan adalah metode penelitian sejarah, karena penelitiannya berhubungan dengan kenyataan yang terjadi pada masa lampau. Hasil Dalam konteks culture of histories, prilaku manusia yang membentuk budaya sudah ada sejak manusia itu berada dalam kandungan, dimana anak mencatat dari segala aktifitas yang dilakukan oleh orang tuanya dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai atau ajaran-ajaran Islam mulai dimasukkan dalam kegiatan upacara sedekah laut, sehingga nampak akulturasi yang kuat antara budaya asal, larung sajen Jawa, dengan budaya baru, Islam. Kesimpulan Peranan Tradisi Sedekah Laut di bidang sosial budaya sangat penting yaitu untuk memelihara budaya masyarakat sekitarnya, dengan terpeliharanya budaya masyarakat, maka dalam kehidupan sehari-hari masyarakat telah mematuhi norma-norma sosial budaya yang ada dalam masyarakat tersebut. Kaitannya dengan persfektif agama terdapat beberapa hukum ada yang membolehkan dan ada juga yang tidak membolehkan yang mana semua itu memiliki alas an masing-masing. Terlepas dari itu banyak dari kalangan masyarakat menilai bahwa tradisi sedekah laut boleh karena terdapat nilai-nilai positif yaitu berupa rasa syukur kita kepada Allah atas nikmat yang telah diberikan lewat jalur laut.... Awal mula adanya tradisi selametan di Jawa sudah ada sebelum agama Hindu dan Budha menyebar. Kemudian masuknya agama Hindu Budha di Jawa mempengaruhi kepercayaan dan membentuk budaya baru yaitu ajaran Hindu Budha Karim, 2017. Salah satu budaya Hindu-Budha dikenal dengan berbagai ritualnya yang berupa upacara kehormatan. ...Anistya Ayu EnggarsariYohan SusiloTradisi Kuningan Tiron-Tiron Sapi TKTTS merupakan salah satu tradisi yang masih berlangsung di Desa Ngetos, Kecamatan Ngetos, Kabupaten Nganjuk. Tradisi kuningan merupakan upacara adat selametan sapi yang bertepatan pada wetonan yang dilaksanakan pada hari Jum’at Wage, wuku kuningan. Tujuan dalam penelitian ini untuk mengetahui 1 Bagaimana awal mula TKTTS, 2 Bagaimana prosesi TKTTS, 3 Bagaimana perpektif masyarakat terhadap TKTTS. Penelitian menggunakan teori folklor menurut Danandjaja. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Instrumen penelitian adalah peneliti, lembar observasi, daftar pertanyaan wawancara, dan alat bantu. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Untuk menganalisis data menggunakan open coding, axial coding, dan selective coding. Hasil penelitian pada prosesi tradisi kuningan yaitu pembentukan panitia, penetapan waktu dan tempat, menyiapkan perlengkapan, mengundang warga, memandikan sapi, seni pertunjukan, sambutan, arak-arakan sapi, ngalungi sapi, selametan, ritual menurunkan dhadhung awuk, dan berkatan. Dalam pelaksanaan tradisi kuningan tiron-tiron sapi tentunya memiliki kekuatan pengaruh sehingga dapat menciptakan perspektif bagi masyarakat Desa Ngetos. Perspektif masyarakat dalam tradisi ini meliputi masyarakat pemilik sapi, masyarakat yang tidak memiliki sapi, Dinas Pariwisata, ketua panitia, dan pemangku adat.; Kata Kunci Tradisi, Kuningan, Folklor... This circle is the culmination of the Javanese philosophical thought about the power of Numinus which pervades the universe, which determines safety, even everything in human life. The Javanese believe that everything is determined by the divine, even down to the smallest elements Karim, 2017. Many things are predestined, and therefore cannot be changed. ...Liber Siagian Yakobus NdonaThis article described about the Javanese and Batak Rajawi man. This article intends to compare the mindset of people from both tribes, backgrounds, and the impact on life. Data was collected through observation, interviews and document collection. The collected data were analyzed using Paul Recouer's hermeneutic circle. The results of the analysis show that the Java man is a spiritual man by relying on the "higher nature" as a protector, while Batak man shows more of a Rajawi man by emphasizing prosperity. The comparison shows that the two human patterns require synergy to build a good Indonesia.... Arifin & Khambali, 2016;Ramly et al., 2020. In some societies, rituals manifest themselves in almost every stage of a person's life, beginning with the period of conception in the womb, birth, until death; even after human death, people still carry out rituals Busro & Qodim, 2018;Karim, 2017. ...Amirotun SolikhahDedy Riyadin SaputroUsing a phenomenological approach, this study aims to reveal the psychological and social impact on three Ngebleng fasting performers in Kutasari village, Cipari district, and Cilacap district. Documentation and in-depth interviews are the main instruments for extracting as much information as possible and then interpreting it based on the phenomena obtained. The results showed that the psychological impact felt by fasting performers included inner peace, less emotional stress, and healthier physical conditions. Meanwhile, the social effects felt by the ritual actors varied. One perpetrator admitted that after undergoing Ngebleng fasting, he felt the smoothness of rizki and the establishment of good social relations; his fortune was smoother and social relations were not disturbed. Still, two people admitted that when fasting, they became less enthusiastic about interacting with the surrounding community because, apart from feeling weak physically, there were also considerations of maintaining so that the fast does not fail.... Belum ada kejelasanmengenaiproblem yang signifikan berkaitan dengan asal-muasal penyebaran Islam di Indonesia yang mungkin tidak akan di selesaikan karena kurangnya sumber-sumber yang bisa di percaya, sehingga banyak berbagai versi yang menyebutkan tentang penyebaran Islam di Indonesia. Sejarah Islam Jawa tidak sekedar soal kontroversi saja, tapi juga soal penegaan Islam sebagai agama kerajaan, suatu proses yang mengakibatkan banyak penghancuran kebudayaan Hindu-Budha yang ada atas kekuasaan keraton Karim, 2017. ...Bambang YuniartoArib MubarokAli RidhoNida NadiaLatar Belakang . Ritual sedekah laut adalah salah satu ritual yang dilakukan satu kali dalam setahun oleh masyarakat nelayan di desa Prapag Kidul, kecamatan Losari, kabupaten Brebes yang merupakan bentuk budaya yang memberikan sedekah ke laut yang dilakukan masyarakat untuk menjaga kesimbangan lingkungan pesisir pantai serta melestarikan warisan nenek moyang. Tradisi ritual sedekah laut di desa Prapag Kidul, kecamatan Losari, kabupaten Brebes merupakan bagian dari tradisi yang juga dilakukan oleh masyarakat nelayan di sepanjang pesisir utara laut jawa. Tujuan Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui terjadinya perubahan tradisi upacara sedekah laut masyarakat desa Prapag Kidul, kecamatan Losari, kabupaten Brebes. Metode adapun metode yang akan digunakan adalah metode penelitian sejarah, karena penelitiannya berhubungan dengan kenyataan yang terjadi pada masa lampau. Hasil Dalam konteks culture of histories, prilaku manusia yang membentuk budaya sudah ada sejak manusia itu berada dalam kandungan, dimana anak mencatat dari segala aktifitas yang dilakukan oleh orang tuanya dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai atau ajaran-ajaran Islam mulai dimasukkan dalam kegiatan upacara sedekah laut, sehingga nampak akulturasi yang kuat antara budaya asal, larung sajen Jawa, dengan budaya baru, Islam. Kesimpulan Peranan Tradisi Sedekah Laut di bidang sosial budaya sangat penting yaitu untuk memelihara budaya masyarakat sekitarnya, dengan terpeliharanya budaya masyarakat, maka dalam kehidupan sehari-hari masyarakat telah mematuhi norma-norma sosial budaya yang ada dalam masyarakat tersebut. Kaitannya dengan persfektif agama terdapat beberapa hukum ada yang membolehkan dan ada juga yang tidak membolehkan yang mana semua itu memiliki alas an masing-masing. Terlepas dari itu banyak dari kalangan masyarakat menilai bahwa tradisi sedekah laut boleh karena terdapat nilai-nilai positif yaitu berupa rasa syukur kita kepada Allah atas nikmat yang telah diberikan lewat jalur Faricha NursyifaYohan SusiloSalah satu tradisi Jawa yang masih dilaksanakan di Desa Sambigede, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang adalah Tingkeban. Tingkeban di Desa Sambigede memiliki ciri khas pada bagian prosesi pelaksanaan dan ubarampe yang digunakan. Tingkeban dilakukan sebagai wujud rasa syukur atas kehamilan ibu yang menginjak usia tujuh bulan serta doa yang dipanjatkan supaya bayi selalu diberi keselamatan hingga waktu kelahiran tiba. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui 1 Prosesi pelaksanaan tingkeban 2 Makna ubarampe dalam tingkeban 3 Wujud perubahan dalam tingkeban. Penelitian ini dianalisis dengan teori folklor setengah lisan oleh Danandjaja. Pendekatan penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif. Instrumen penelitian ini adalah peneliti, daftar pertanyaan, serta beberapa alat bantu seperti gawai, kertas, dan bolpoin. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Untuk menganalisis data digunakan open coding, axial coding, lan selective coding. Hasil penelitian ini yakni pada prosesi pelaksanaan tingkeban secara lengkap yakni menentukan hari, menyiapkan ubarampe, mengundang tetangga, macapatan, arak arakan, siraman, dan genduren. Terdapat makna pada prosesi dan pada ubarampe yang mencerminkan harapan warga. Dan wujud perubahan tingkeban dapat diamati secara internal maupun eksternal. Kata Kunci Tradisi, Tingkeban, FolklorArbanur RasyidRayendriani Fahmei Lubis Maulana Arafat LubisNashran AzizanThis research examines the local wisdom built by the Muslim community of Angkola around the ritual of slaughtering buffalo in the event of death ceremony. This study is a field research combining observation, interviews, and document analysis with a sociological analytical technique to evaluate the tradition beginning with the reasons for its adoption, the process, and the desired outcomes. The study’s findings indicate that the Angkola people’s practice of slaughtering buffalo in burial ceremonies is motivated by a desire to preserve traditional culture as well as a means of protecting the social strata of traditional elders. Furthermore, this ritual appears to be a technique of sustaining societal social cohesiveness. The buffalo slaughter served as the foundation for implementing Islamic ideals in an atmosphere of brotherhood and generosity, with Mora Khanggi and Anak Boru serving as the primary funders. The outcomes of the study demonstrate that the practice of local communities as part of life knowledge can be sociologically connected with Islamic theological teachings. Acculturation of culture with religious teachings can genuinely present various choices for propagating religion while also exhibiting theological flexibility in order to make it more welcoming to its devotees. Situ AsihIda Bagus Gde Yudha TrigunaAs a diverse country, Indonesia has various cultures that are believed and carried out for generations. One of the traditions carried out by the Buddhist community in Wonogiri is the tradition of sending prayers to deceased ancestors in the form of Syoko. The Buddhist community believes that the death of a person is not the end of life, so the bereaved family will perform various rituals to pray for the deceased family member. This study aims to describe how the Syoko tradition is carried out and what it means for people who carry out the Syoko tradition. By using a qualitative descriptive method, which was obtained through interviews and direct observation. From the results of the study, it can be explained that the Syoko Tradition carried out by the Buddhist community in Wonogiri has an important meaning. That is sending prayers to ancestors who have died, by sending prayers it is hoped that the living people can help ancestors who have died to go to a happy world of life. The arrangement of the altar which is different from the puja altar in general is that there is a photo of a person who has died in front of the Syoko altar, which aims to help condition the minds of the Buddhist community who praises remembering all the virtues that have been carried out by people who have died while still Kematian dan Alam Barzakh. terj.. Solo SerangkaiMahir Ash-ShufiAhmadAsh-Shufi, Mahir Ahmad. 2007. Misteri Kematian dan Alam Barzakh. terj.. Solo ChodjimChodjim, Achmad. 2002. Syekh Siti Jenar Makna Kematian. Jakarta Serambi Ilmu The Religion of JavaCli GeertzGeertz, Cli d. 983. The Religion of Java. Terj. JakartaAswab Mahasin Pustaka Kematian Mengubah Ketakutan Menjadi OptimismeKomarud HidayatHidayat, Komarud 2005. Psikologi Kematian Mengubah Ketakutan Menjadi Optimisme, Jakarta PT Mizan Penelitian Living Qur"an dan HadisM MansyurMansyur, M. dkk. 2007. Metodologi Penelitian Living Qur"an dan Hadis. 2007. TH-Press. Kamus Arab-Indonesia. Yogyakarta Unit Pengadaan Buku Ilmiah Pondok Pesantren Al-Munawwir KrapyakAbmad MuawwirWarsonMuawwir, Abmad Warson. 1997. Al-Munawwir Kamus Arab-Indonesia. Yogyakarta Unit Pengadaan Buku Ilmiah Pondok Pesantren Al-Munawwir Al-Quran Tafsir Maudhu"i atas Pelbagai Persoalan UmatM ShihabQuraishShihab, M. Quraish. 1996. Wawasan Al-Quran Tafsir Maudhu"i atas Pelbagai Persoalan Umat. Jakarta Mizan Kematian Islam Jawa. Pengaruh Tradisi Lokal Indonesia dalam Ritual Kematian IslamMuhammad SholikhinSholikhin, Muhammad. 2010. Ritual Kematian Islam Jawa. Pengaruh Tradisi Lokal Indonesia dalam Ritual Kematian Islam. Yogyakarta Penerbit Kubur Barzakh Digali dan Al-Qur "an dan HadisM Ali UmarHasanUmar, M. Ali Hasan. 1979. Alam Kubur Barzakh Digali dan Al-Qur "an dan Hadis. Semarang Toha Putra.

perhatikan data berikut ini 1 mengiringi ritual kematian